Print This Post AddThis Social Bookmark Button  Email This Post

Batik Baru

April 1st, 2008 by admin

BATIK BARU MERUPAKAN PRODUK ASLI INDONESIA, WALAUPUN SERING DIANGGAP SEBAGAI PRODUK MASA LALU, BATIK SAAT INI DIPANDANG SEBAGAI PRODUK YANG DAPAT MENGGODA SELERA PARA GENERASI MUDA. HARUMI SUPIT MELAPORKAN

PHOTOGRAPHY | LESTER LEDESMA

Setumpuk kain batik tersusun dalam rak dan diterangi oleh lampu redup terpampang pada suatu toko di Alun-alun seluas 6.000 m2 di emporium mal Grand Indonesia Jakarta. Para pengunjung datang dengan mengenakan sepatu hak tinggi serta ditemani oleh pengasuh bayi mereka seperti tenggelam dengan produk yang

terpajang sebelum akhirnya melangkah ke lantai bawah untuk menikmati secangkir kopi latte. Para pengunjung ini adalah masyarakat Indonesia dengan kemampuan ekonomi kelas atas.

Batik identik dengan jiwa bangsa Indonesia. Walaupun banyak negara lain yang memproduksi batik, masyarakat Indonesia tetap mengenal batik sebagai produk khas Indonesia. Lembaga-lembaga Pemerintah dan beberapa perusahaan swasta bahkan mengharuskan para karyawan mengenakan batik seminggu sekali.

Josephine Komara, pendiri Bin House yang merupakan salah satu penghasil batik terbaik dengan gerai toko yang tersebar sampai ke Singapura dan Jepang, berkata: “Batik, yang dihasilkan di Indonesia, hanya dapat dihasilkan di Indonesia.” Komara berasal dari latar belakang keluarga peda-gang dan mewarisi kecintaan akan batik dari neneknya.

Menurut pengertian aslinya, batik merupakan secarik kain yang dihias langsung oleh manusia menggunakan lilin cair dan diberi warna sehingga corak yang telah tergambar akhirnya terpantul pada sisi belakang kain. Penduduk desa menciptakan corak dan warna yang khas sehingga para pencinta batik dapat mengatakan ciri-ciri suatu motif hanya dengan melihat sekilas. Jawa Tengah merupakan daerah yang dikenal sebagai penghasil batik dengan kualitas yang sangat baik. Kota-kota seperti Pekalongan, Solo (dulunya Surakarta), Cirebon dan Jogjakarta saling bersaing untuk mendapatkan gelar Kota Batik.

Mencorak batik berkualitas adalah pekerjaan yang memakan waktu. Batik tulis memiliki ratusan corak yang

mesti digambar dengan tangan pada secarik kain dengan menggunakan lilin cair dan alat gambar dari tembaga yang disebut canting. Kain kemudian diberi warna sehingga corak yang tergambar akan muncul pada sisi belakang kain. Pada tahap akhir, lilin kemudian akan dikupas. Sesuai dengan tingkat kerumitan desain, proses ini dapat diulang sebanyak 20 kali, dengan tenggang waktu satu hari untuk mengeringkan kain.

“Proses ini sama seperti melukis. Seorang seniman diminta melukis lukisan yang sama – hasilnya tidak akan sama,” ujar Komara.

Adapun batik cap merupakan jenis batik yang lebih murah dimana corak tidak dilukis, tetapi disablon secara manual. Saat ini, mesin canggih semakin mempermudah proses pembuatan batik dimana mesin mencetak corak pada kain (biasanya kain polyester atau rayon) secara massal yang kemudian melahirkan sebutan batik cetak. Perbedaan harga sangatlah mencolok. Sebuah kain batik cetak hanya berharga Rp. 20.000 (US$2,20) dan batik tulis dari sutra dapat bernilai ratusan dollar.

Saat ini banyak sekali orang yang telah mampu membeli batik berkualitas, suatu gambaran semakin banyaknya masyarakat Indonesia dengan keadaan ekonomi yang cukup baik. Batik tulis, sebagai batik dengan kualitas tinggi, memiliki segmen pasar tersendiri. Untuk dapat meniru persis nilai estetika Indonesia mengandung arti batik tulis versi Jawa tidak dapat diproduksi dimanapun selain di Indonesia. Tidak mengherankan untuk memproduksi sepotong kain batik tulis dibutuhkan empat bulan.

Akan tetapi, di mata para generasi muda, batik merupakan produk dari masa lalu. “Mereka menganggap batik sebagai produk yang sangat tradisional,” ujar Minky Lesmana, pimpinan perusahaan tekstil PT Eratex.

Saat ini, batik masih tetap merupakan produk dalam negeri. Menurut koran Media Indonesia, statistik pemerintah tahun 2006 menunjukkan nilai ekspor batik sebesar US$110 juta – hanya 34 persen dari produksi keseluruhan yang bernilai US$ 322 juta. Secara umum, industri batik mempekerjakan hampir 800.000 karyawan.

“Pasar dalam negeri merupakan pasar pokok,” menurut Daniel Sugiarto, direktur operasional, Iwan Tirta, salah satu penghasil batik berkualitas dimana produknya dipakai oleh para delegasi APEC 1994, termasuk Presiden Clinton.

Batik saat ini hadir dalam berbagai bentuk, harga, potongan dan warna. “Mau tidak mau kami harus mampu memenuhi selera kaum muda, jika tidak, kami sendiri yang akan kalah,” kata Sugiarto.

Batik juga hadir dalam bentuk hiasan rumah, alat-alat keramik dan aksesoris lainnya. Citos, mal yang dikenal di kalangan kaum muda Jakarta, merupakan salah satu contoh bagaimana batik menyusup dalam kehidupan kaum muda. Hari Selasa malam, mal itu akan dipenuhi oleh gerai-gerai kecil dimana hampir seperlima dari semua gerai menawarkan batik dalam berbagai bentuk dan produk, seperti rok mini dan rok hippy yang biasanya ditemukan di toko-toko seperti Zara.

“Saya pasti akan membeli jika saya menemukan produk batik yang saya senangi,” ujar Louise Hartanto, 26 tahun, seorang pengusaha konsultan pendidikan yang sebelumnya menempuh pendidikan di Singapura.

“Biasanya saya membeli kain bakal dan kemudian membawa ke tukang jahit untuk dijahit menjadi gaun pesta ataupun kemeja biasa atau rok. Jika warna dan desainnya cocok dengan selera saya, saya akan membeli – asal harga juga pantas. Jika saya tidak merasa aneh dengan batik yang saya lihat, saya akan memakainya seperti baju biasa.”

Merek-merek seperti Allure merupakan merek yang sedang naik daun saat ini. Allure, pendatang baru dalam dunia mode yang mulai beroperasi pada tahun 2005, telah berhasil menarik perhatian menantu Presiden, seorang mantan pembawa acara TV untuk menjadi ikonnya. Desain baju-baju Allure merupakan perpaduan corak masa kini dan tradisional. Saat ini Allure telah membuka empat butik dan dua gerai – suatu prestasi yang cukup membanggakan bagi sebuah bisnis yang bermula dari bisnis kecil.

Tidak seorang pun menyangkal bahwa inovasi berperan penting. Akan tetapi, sebagaimana batik melangkah menuju dunia mode masa kini, kita juga tidak dapat menyangkal bahwa keinginan agar nilai-nilai tradisional yang terkandung didalamnya tidak hilang. “Minat akan batik tetap ada…tetapi tanpa pengertian yang mendalam,” ujar Komara yang merasa khawatir akan masa depan batik. Sebagai pencinta batik, beliau juga menambahkan, ”Batik sangatlah khas.”

Menemukan batik yang terbaik

Jawa Tengah telah lama dikenal sebagai daerah penghasil batik dengan kualitas yang sangat bagus. Jogjakarta, Solo, Cirebon dan Pekalongan adalah beberapa kota dimana batik tetap berakar dalam kehidupan masyarakat setempat. Banyak dari para penghasil batik tersebut hijrah ke kota lain di dunia, akan tetapi adalah sangat disarankan agar Anda langsung datang ke sumbernya untuk mendapatkan batik yang benar-benar unik. Jl Malioboro di Jogjakarta merupakan tempat yang sangat tepat untuk melihat hasil kerja para pengrajin batik. Untuk batik cetak, Anda dapat mengunjungi mal-mal setempat, pasar ataupun department store. Atau apabila memang waktu tidak mengizinkan, Anda juga dapat membeli batik di bandara udara.

Informasi Penghasil Batik (toko utama):

Allure
Jl Kemang Raya 27A, Jakarta Selatan www.allurebatik.com

Bin House
Jl Teluk Betung 10, Jakarta Pusat www.binhouse.com

Danar Hadi
Jl Melawai Raya 69-70, Jakarta Selatan www.danarhadibatik.com

Iwan Tirta
Jl Wijaya XIII No 11A, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan www.iwantirtabatik.com

This entry was posted on Tuesday, April 1st, 2008 at 4:15 pm and is filed under Transit Time(in). You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply