Print This Post AddThis Social Bookmark Button  Email This Post

Darah, Keringat dan Tombak

January 1st, 2009 by admin

DARAH, KERINGAT, DAN TOMBAK BAGI ANDA YANG INGIN MENYAKSIKAN PETUALANGAN DI NUSA TENGGARA, TENGOKLAH UPACARA PASOLA DI SUMBA BARAT. CERITA DAN FOTO OLEH ED BAILITIS 

Dua kelompok penunggang kuda saling berhadapan di atas kuda poninya masing-masing pada sebuah medan perang. Masingmasing kelompok menunggu dengan sabar. Tiba-tiba, salah satu pemimpin dari mereka bergerak maju ke depan. Tim lawan lalu mengambil posisi bersiap saat seorang prajurit yang memimpin mereka mencoba memilih salah satu lawan untuk “dibunuh”. Dengan kecepatan penuh, si pemimpin menghindari hujanan tombak yang menyergapnya. Setelah mencapai sasarannya, ia melemparkan tombaknya dengan sepenuh tenaga. Tombak yang dilemparkannya dengan tepat dan kuat mengenai tubuh lawan. Untungnya, tombak tumpul tersebut memantul disertai suara keras. Wanita, anak-anak dan sekelompok wisatawan asing bersorak ramai mengiringi kemenangan prajurit pemenang.

Setelah melepaskan tombaknya, sang pemimpin lalu berbalik meninggalkan posisinya di depan. Dengan kedua tangannya ia menangkis tombak-tombak lawan sambil menggunakan kedua kakinya dengan lihai ia memandu kembali kudanya ke tepi lapangan. Sambil terus memacu dan saling berputar arah, prajurit berkuda lainnya mulai saling melemparkan ejekan dan tombak satu sama lain. Suasananya penuh dengan ketegangan saat pertempuran semakin mencapai puncaknya.

Kita berada di desa Wanukaka, dan upacara Pasola dari Sumba Barat yang selalu dihormati di sepanjang jaman sedang berada di puncaknya. Tidak lagi hanya semata-mata merupakan tontonan para turis, pameran keahlian para penunggang berkuda yang terampil sambil memegang tombak pada pertempuran yang telah ditentukan waktu dan tempatnya ini benar-benar otentik, tak terlupakan dan brilian. Bagi masyarakat Sumba, Pasola merupakan bagian tak terpisahkan untuk mempertahankan tradisi nenek moyang secara damai dan produktif. Bagi para pengunjung, peristiwa ini merupakan sebuah tontonan yang unik yang melampaui harapan setiap orang.

Sumba terletak di selatan Flores Barat dan Komodo, sekitar satu jam penerbangan ke arah timur Bali. Terkenal karena hutan-hutan cendana dan kudanya yang berukuran kecil namun gagah, Sumba memiliki budaya kesukuan yang paling kaya di Nusa Tenggara berkat rumah-rumah jerami, ukiran makam yang berukuran besar, kain ikat yang menawan dan upacara pemakamannya yang penuh darah. Sumba Barat adalah wilayah barat yang liar atau “Wild West”-nya Indonesia dan dikenal sebagai Pulau Kuda Sumba (Sandalwood Horse).

Sumba secara geografis dan budaya terbagi dua di tengahtengah: namun jantung dan jiwa pulau Sumba mengelilingi kota besarnya Waikabubak yang terletak di daerah yang lebih hijau di Sumba Barat.

Kebudayaan animisme sangat melekat dengan Sumba Barat, menjadikan Sumba satusatunya pulau di nusantara di mana agama animisme secara resmi diakui oleh pemerintah Indonesia. Animisme merupakan kegiatan utama yang dilakukan banyak penduduk desa di puncakpuncak bukit di Sumba Barat. Kota Waikabubak adalah desa di sisi bukit yang di sekelilingnya terdapat beberapa desa yang berisi rumah-rumah terbuat dari jerami yang menjulang seperti topi jerami setinggi 15 meter. Setiap rumah menghadap sebuah alun-alun yang berisi makam batu megalitik – orang-orang di desa ini benar-benar hidup di antara orang-orang yang sudah mati.

Bagi masyarakat tradisional Sumba, upacara terbesar dalam kehidupan seseorang adalah kematian yang dirayakan dengan pemotongan babi dan kerbau, dan upacara ritual penguburan mayat dalam posisi duduk yang diselubungi kain ikat. Semakin tinggi status orang yang meninggal, semakin besar batu nisannya. Tulisan pada nisan berukuran besar di dataran tinggi berpemandangan indah menandai tempat peristirahatan terakhir beberapa kesatria Pasola masa lalu.

“Mati di Pasola,” kata tetua desa, “adalah kehormatan tertinggi.” Pasola juga berfungsi sebagai sebuah pengadilan rakyat dan sebuah suar keberuntungan, yang memungkinkan orang untuk menuntut balas dendam antar desa dan menumpahan darah untuk memastikan panen beras yang berhasil.

Kata Pasola berasal dari bahasa setempat “sola”, yang berarti tombak. Kegiatan ini merupakan pusat kebiasaan masyarakat Sumba Barat, dan dilaksanakan delapan hari setelah bulan purnama pada bulan Februari dan Maret di desa Lamboya dan Kodi, Gaura dan Wanukaka. Acara ini dipicu oleh penampakan massal dari cacing laut, nyale. Jumlah nyale merupakan petunjuk bagi Rato, atau pendeta tertinggi, apakah panen padi yang akan datang akan berlimpah atau sedikit.

Beberapa malam sebelum nyale diharapkan muncul, Rato akan berada di pantai di sepanjang tepi pantai. Jumlah dan perilaku nyale akan menentukan keberhasilan panen padi yang tak lama lagi tiba – jika Pasola dilakukan dengan baik.

Beberapa minggu sebelum tibanya nyale, masyarakat tidak diperkenankan untuk pergi ke pantai; dan selama beberapa hari yang penuh kegembiraan sebelum Pasola dilakukan, masyarakat setempat dipaksa untuk tidak pergi ke laut. Banyak cerita yang tersebar yang menyebutkan keluarga yang dimangsa oleh monster dan desa yang tersapu air laut setelah melanggar kesucian Pasola.

Upacara Pasola diawali oleh pajura, atau kontes tinju malam hari. Beberapa desa menyelenggarakan pertarungan di mana setiap pesertanya berperang kata-kata selama beberapa jam. Sering kali perselisihan ini menjadi sungguhan dan memanas. Konflik antar desa merupakan sesuatu yang terus terjadi di Sumba Barat, di mana seluruh desa yang berumah atap jerami sering kali diduga dibakar hingga rata dengan tanah oleh penduduk desa tetangga.

Pasola pada awalnya dimulai di pantai. Lalu tim yang saling berperang yang terdiri dari 150 orang setiap sisi bergerak untuk mengambil posisi. Ini adalah medan tempur Pasola, di mana pertempuran demi pertempuran telah terjadi selama berabad-abad.

Acara ini merupakan peristiwa peperangan yang liar di mana kecelakaan serius dan kematian masih terjadi. Untuk mengurangi jatuhnya korban, pemerintah Indonesia beberapa tahun yang lalu memerintahkan agar tombak tumpul sajalah yang boleh digunakan. Di masa lampau, upacara ini benar-benar mengubah medan pertempuran menjadi medan yang penuh dengan darah.

Pasola bisa terus berlangsung selama sehari penuh dan terkadang bisa dilanjutkan hingga keesokan harinya. Yang sedikit gaib yang menjadi ciri dari kegiatan ini tetap menjadi misteri, semisterius datangnya nyale. Seperti yang selalu dikatakan oleh setiap pemandu wisata – dan seperti yang bisa disaksikan oleh setiap pengunjung – hari dilangsungkannya Pasola pastilah merupakan hari yang cerah, walaupun hujan turun dalam beberapa hari sebelumnya. Pemandu wisata menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan “berkah” dari nenek moyang untuk Pasola. Pesannya adalah: permainan telah dimulai.

 

This entry was posted on Thursday, January 1st, 2009 at 12:00 am and is filed under Arrivals(in). You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply