Kesempatan 2009
January 1st, 2009 by admin
KESEMPATAN 2009 MASIH ADA BEBERAPA HAL PENTING YANG POSITIF DALAM KONDISI INDONESIA EKONOMI DI TAHUN 2009, DEVI ASMARANI MELAPORKAN SELENGKAPNYA
Peristiwa ekonomi yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini, menunjukkan bahwa masa-masa sulit masih akan terus menyelubungi kondisi ekonomi Indonesia di masa yang akan datang. Dengan semakin banyaknya orang yang mengetatkan pengeluaran mereka, kebutuhan global akan barang dan jasa juga diramalkan akan berkurang. Dunia bisnis tengah bersiap-siap untuk menghadapi dampak yang terburuk. Indonesia yang belum sepenuhnya pulih dari krisis ekonomi yang dimulai 11 tahun yang lalu juga pasti akan mengalami dampaknya.
LANDASAN EKONOMI MAKRO YANG KOKOH
Walaupun gambaran ekonomi ke depan global nampak buram, masih ada beberapa sektor ekonomi yang sebenarnya masih tetap cerah. Salah satu penyebabnya adalah tingkat pertumbuhan Indonesia tahun 2009 yang masih diramalkan berkisar atau sedikit di bawah angka 6%.
Ekonomi Indonesia kembali ke jalurnya yang terbukti dengan perluasan secara terus menerus selama delapan kuartal hingga 2008 dan rasio hutang terhadap GDP yang lebih tinggi.
“Indonesia telah mengurangi beban hutangnya. Pemerintah memiliki jumlah hutang yang rendah menurut standar internasional,” kata Milan Zavadjil, perwakilan IMF di Indonesia.
Cadangan devisa negara jumlahnya hampir empat kali dari jumlah yang dimiliki di tahun 1997 sebesar US$58 miliar. Indonesia juga telah mengalami surplus perdagangan selama beberapa tahun terakhir, di mana selama semester pertama 2008 saja dapat mencapai surplus sebesar US$8 miliar . Penerimaan pajak yang lebih tinggi karena meningkatnya harga sumber daya alam seperti minyak sawit, karet, dan kakao, serta defisit anggaran yang lebih kecil daripada yang direncanakan menyebabkan pemerintah memerlukan lebih sedikit hutang luar negeri.
Dengan anggaran yang tiga kali lebih besar daripada anggaran di tahun 1997 sebesar 300 triliun rupiah, Indonesia berada pada posisi yang lebih kuat. Dan sangat berbeda dari sepuluh tahun yang lalu, nilai tukar rupiah dibandingkan dengan dolar AS sejauh ini juga masih stabil.
SISTEM PERBANKAN YANG SEHAT
Salah satu perbedaan utama antara situasi saat ini dan krisis yang terjadi tahun 1998 adalah keadaan bank-bank di Indonesia.
Sepuluh tahun yang lalu, bank-bank memiliki kapital yang sangat buruk dan rentan terhadap praktik pemberian pinjaman yang sembrono. Sejak saat itu, konsolidasi telah menunjukkan bahwa 10 bank-bank teratas kini meliputi 61% aset perbankan secara total. Kredit macet kini nilainya hanya sekitar 3%, dan portofolio pinjaman kini tidak lagi terfokus pada pemberian kepada korporasi.
Rasio kecukupan modal perbankan sebesar 17% kini lebih besar daripada angka minimumnya yang sebesar 8%, ini menunjukkan bahwa bank-bank memiliki cadangan modal yang mencukupi. Untuk mencegah terjadinya kembali krisis kepercayaan yang mengakibatkan penutupan bank-bank secara massal, pemerintah terakhir meningkatkan jaminannya atas simpanan senilai 100 juta rupiah hingga dua miliar rupiah. Hal ini diharapkan dapat melindungi 97% simpanan yang dimiliki negara ini.
Ahli Ekonomi Umar Juoro mengatakan, “Kita tengah menghadapi gelombang besar krisis keuangan global. Namun dalam hal kemungkinan terjadinya kembali krisis kepercayaan seperti yang pernah terjadi tahun 1998 sangatlah kecil terjadi.”
KONSUMSI YANG DIGERAKKAN DARI DALAM NEGERI
Tidak diragukan lagi, ekspor akan menjadi sektor pertama yang akan terkena dampak negatif dari kelesuan global. Namun pemerintah dan analis percaya bahwa melemahnya ekspor akan dapat diatasi oleh konsumsi domestik, mengingat lingkungan proyeksi tingkat suku bunga yang lebih rendah dan digerakkan lagi oleh inflasi yang rendah yang berkisar sekitar 6%. Tidak seperti negaranegara seperti Korea, yang produksi domestik kotornya sangat bergantung kepada ekspor, pangsa ekspor Indonesia hanya 30% dari GDP-nya.
KOMODITI
Harga-harga komoditi semakin menurun karena berkurangnya permintaan, ini terlihat dari turunnya harga minyak mentah, minyak sawit mentah, serta batu bara. Namun harga minyak yang menurun juga mengurangi beban subsidi pemerintah yang tinggi, sehingga menyediakan dana yang cukup untuk dialokasikan pada proyek-proyek yang dapat memicu pertumbuhan.
Selain itu, negara-negara seperti Cina dan India akan masih membuka permintaan untuk komoditas. “Walaupun pertumbuhan Cina akan melemah karena turunnya nilai ekspor mereka, nilainya akan masih berkisar pada angka 9%. Ini berarti bahwa mereka akan masih membutuhkan batu bara dan minyak sawit”, tambah Umar.
SEKTOR INDUSTRI YANG MASIH TERUS TUMBUH
Sektor pertanian dan energi – termasuk minyak dan produk-produk turunannya – ditambah dengan sektor telekomunikasi nampaknya masih akan menyokong kondisi ekonomi tahun depan, walaupun sektor-sektor ini juga masih akan merasakan pertumbuhan yang tidak terlalu tinggi.
“Sektor pangan dan energi merupakan dua sektor yang sangat penting, dan negara seperti Cina tidak dapat mengerem sektor ini,” kata Michael Steven, ketua Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia. “Sebenarnya saat ini adalah saat yang tepat bagi mereka untuk membeli karena harga-harga tetap rendah”, katanya.
STABILITAS REGIONAL
Ekonomi di Asia tidak hanya berubah menjadi stabil sejak krisis 1998, namun juga semakin kuat serta memiliki daya tahan yang lebih besar terhadap tantangan badai ekonomi yang baru. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Cina dan India penting bagi pemulihan ekonomi dunia.
Umar mengatakan bahwa cadangan devisa negara-negara Asia – yang bernilai US$3 triliun – cukup untuk meredam dampak guncangan ekonomi global. Dari jumlah ini, Cina memiliki 1,1 triliun, Jepang 800 miliar, Singapura lebih dari 100 dan Korea sekitar 150, tambahnya.
“Kemampuan ini diharapkan dapat mencegah terjadinya resesi di Asia, dan merangsang ekonomi dunia saat negara-negara maju sedang mengalami resesi.”
MENINGKATNYA PARIWISATA REGIONAL
Pastinya ada penurunan dalam jumlah orang yang berkunjung ke Indonesia dari negara-negara yang terkena dampak krisis paling parah. Namun dengan tren menurunnya harga minyak, bepergian dengan pesawat terbang mungkin juga menjadi lebih murah. Dan bagi mereka yang tetap bepergian, mungkin lebih banyak diskon menarik yang ditawarkan perusahaan penerbangan dan hotel yang menu-run pemasukannya akibat krisis. “Saya rasa akan lebih banyak orang yang bepergian di dalam Indonesia dan di kawasan sekitar,” kata Umar. Survei Tujuan Wisata Visa terbaru yang dilakukan Visa International dan Asosiasi Pariwisata Asia Pasifik (PATA) menunjukkan bahwa dari 5.500 konsumen dari 11 pasar utama ke Asia Pasifik, 57% responden berencana untuk mengganti tujuan wisata mereka ke tujuan-tujuan yang tidak begitu mahal sebagai akibat dari ketidakpastian ekonomi yang terjadi.
DEREGULASI BIDANG PENERBANGAN
Sektor yang juga berpotensi untuk semakin meningkat dibandingkan sepuluh tahun yang lalu adalah kemudahan bepergian di dalam negeri, yang memacu dunia bisnis dan perjalanan wisata di seluruh penjuru nusantara. Survei Visa International juga menunjukkan bahwa sebagai akibat ketidakpastian ekonomi, 38% responden mengatakan mereka akan bepergian ke tujuan-tujuan domestik daripada tujuan-tujuan internasional. Satu perbedaan utama di tahun 2008 jika dibandingkan dengan 1998 adalah pilihan dan ragam harga tiket pesawat yang dapat dipilih konsumen Indonesia. Deregulasi dalam industri penerbangan telah menciptakan pilihan yang lebih beragam, serta model pemesanan tiket berbiaya rendah melalui Internet juga mampu memungkinkan perusahaan penerbangan untuk memicu pasar domestik saat terjadi penurunan permintaan. Jika harga minyak tetap rendah, sektor ini akan relatif tetap mampu bertahan.
PERSIAPAN YANG LEBIH BAIK
Kebijakan yang tidak menentu dan gejolak politik yang menjadi penyebab kepanikan pasar dan menurunnya nilai tukar rupiah merupakan puncak terjadinya krisis di tahun 1997. Namun banyak pelajaran yang telah diambil sejak saat itu, dan pemerintah telah bertindak cepat untuk mencegah krisis ini untuk berkembang menjadi semakin buruk. Indonesia juga telah bertindak cepat untuk melindungi industri lokal dari serbuan barang-barang dari luar dengan menerapkan penghambat non-tarif yang cukup agresif.
“Secara keseluruhan, Saya rasa pemerintah telah menangani krisis ini sejak awal, dan siap untuk melakukan lebih banyak lagi saat krisis ini memburuk,” kata Sofyan Wanandi, ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (API). “Pertanyaanya sekarang, adalah seberapa lama, dan seberapa parah krisis ini akan berlangsung? Itulah yang belum kita ketahui.”
Kini sepenuhnya sebagai penulis lepas, Devi Asmarani pernah menjadi koresponden senior di Indonesia untuk koran Th e Straits Times selama delapan tahun.
This entry was posted on Thursday, January 1st, 2009 at 12:00 am and is filed under Transit Time(in). You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.



