Memancing di Perbatasan
January 1st, 2009 by admin
MANAKAH YANG LEBIH TEGANG-BERADA DI LAUTAN BERSAMA HIU MACAN, ATAU MENANGKAP TUNA TERBESAR? SARAH PORTER BERTANYA KEPADA PENYELAM DAN PEMBURU IKAN APA YANG PALING MEMBUAT HATI MEREKA BERDEBAR
Di kedalaman laut lepas pantai Padang, Sumatra, seorang penyelam bebas pemburu ikan tak bergeming, sendiri dan 20 meter di dalam laut. Kesunyian lautan meliputinya, hanya terpecahkan oleh seberkas cahaya matahari yang membantunya melihat apa yang ada di bawah.
Tombak primitif yang besar terasa ringan di tangannya dan ia memantapkan pegangannya, menunggu seekor tuna gigi anjing raksasa untuk berbelok ke arahnya. Adrenalin di tubuhnya bergejolak.
Ikan pelagik (laut dalam) yang besar ini berjarak kurang dari delapan meter. Penasaran, ikan ini berbalik untuk menyelidiki tubuh kaku bak benda mati di dalam air. Penyelam tersebut lalu membidik, dan melontarkan tombak yang bergerak layaknya kilat di dalam air – mengenai tuna tepat di kepala. Darah pun membanjir.
Dalam bahasa perburuan ikan, sebuah doggie 40-kilogram – ikan yang paling dicari-cari – baru saja tertangkap.
Menyelam bebas sambil berburu ikan (free-dive spear fishing) adalah olahraga adrenalin yang unik, dan perairan Indonesia memiliki terumbu karang dan lahan berburu di air terbaik di dunia. Ikan kue, mangar, makerel Spanyol dan tuna gigi anjing hidup di perairan ini, dan para penyelam bebas datang ke sini dari segala penjuru dunia untuk menguji keahlian menombak mereka.
Berburu ikan terumbu karang atau ikan pelagik dengan tombak tidak memerlukan banyak peralatan atau latihan resmi. Namun tidak mudah untuk menemukan pusatnya, dan para ahli yang dapat mengajarkan pemula juga cukup terbatas.
Spesialis infotech Richard Pang dan konsultan pengeboran minyak David Griffi n memulai olahraga ini di Indonesia sekitar tiga tahun lalu namun baru membeli peralatan sendiri belum lama ini. “Untuk punya perlengkapan yang memadai, dibutuhkan sekitar dua sampai tiga ribu dolar,” kata Richard. “Anda memerlukan sebuah senjata, sepatuk katak yang baik, sepatu bot, baju dan pisau selam, sabuk pemberat, penutup kepala, juga mask dan snorkel yang bagus. Dan anda butuh tas selam yang bagus untuk bepergian di pesawat.”
Kedua orang tersebut berkenalan dengan olahraga ini di Australia, namun mengaku bahwa pelajaran sebenarnya mulai di Indonesia bersama Edgar Collins, seorang agrikulturalis berbasis di Singapura yang dikenal sebagai pemburu ikan terbaik di Asia Tenggara. Edgar telah melakukan spear fishing selama 35 tahun. “Saya belajar dari ayah ketika saya berusia lima tahun. Tapi dia belajar dari para aborigin di Nugini dan Australia utara,” katanya.
Edgar ingat ketika ia berusia 16 tahun, tombak per baja dijual di pasaran dengan harga $100 per buah. “Mereka telah merevolusi olahraga ini. Kita mulai menembak apa saja,” katanya. “Anda harus belajar untuk terus berada dalam air dan menyelam – baru keahlian berburu akan datang.”
Tidak diragukan lagi ini adalah olahraga berdarah, dan pengaruhnya kepada lingkungan maritim tengah dipertanyakan. Namun Edgar dan kawan-kawannya berargumen bahwa spear fishing ini selektif dan konservatif – dan kebanyakan penyelam paham akan akibat memancing tanpa batasan.
“Orang-orang yang turun ke lautan dengan kapal-kapal, merekalah yang membuat kerusakan”, kata David. “Separuh tantangannya sebenarnya adalah untuk mampu menyelam dengan kapasitas paru-paru untuk sampai disana.” Apa yang para penyelam ini tangkap dari lautan Sumatra langsung dimakan dikapal. Mereka hanya menangkap ikan yang enak untuk dimakan. Apa yang tersisa kemudian diberkan kepada para kru kapal untuk dibawa pulang.
Sambil tetap mendukung perlindungan ekosistem laut, mereka juga menikmati ketegangan waktu menyelam. Keselamatan adalah kuncinya, namun mereka juga bercerita tentang masa-masa menakutkan di bawah laut. “Yang paling menakutkan yaitu ketika berada di tempat sangat dalam. Atau ketika anda bersama orang yang tidak tahu apa yang mereka lakukan,” kata Bruce Waterfield yang tinggal di Jakarta. “Namun risiko terbesar adalah shallow water blackout.”
“Tubuh anda kekurangan oksigen, lalu berhenti bekerja. Kerongkongan akan tertutup dan anda menjadi tidak sadar. Bila tidak ada orang yang menyadarinya selama delapan atau sembilan detik – anda akan tenggelam.”
Pernah suatu kali sebuah kapal reot menemukan Edgar mengapung di Laut Timor 180 km dari darat. Edgar dan Bruce menunggu ajal di Laut koral lepas Australia – tanpa teman kecuali hiu macan sepanjang 12 kaki.
Namun Edgar tetap membela dan menghormati olahraga ini. “Ini adalah sesuatu yang harus diperlakukan serius. Dan melibatkan senjata berbahaya,” katanya. “Banyak orang yang memiliki insting berburu yang bagus. Anda hanya harus masuk ke arena dan mencobanya.”
Kontak
Untuk informasi lebih lanjut mengenai free dive spear fishing di Indonesia:
ANDRE HANDMADE SPEARGUNS Jalan Bypass Ngurah Rai, Suwang Kauh 80221, Bali, Indonesia, tel: 62 361 722384, www.balispearfishing.com
COLLINS SPEARGUNS David Reid, tel: 61 740 514270 www.collinsspearguns.com
SUMATRA-BASED CHARTERED BOAT TRIPS Penyewaan kapal di Sumatra Todd Roesler, email waves@cbn.net.id, www.nomadsurfindonesia.com
GENERAL SPEAR FISHING SITES Website umum mengenai spear fishing www.worldspearfishing.com/spearfishing.php
This entry was posted on Thursday, January 1st, 2009 at 12:00 am and is filed under Arrivals(in). You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.



