Diaktifkan
April 1st, 2009 by admin
DIAKTIFKAN SEPULUH TAHUN SETELAH DEREGULASINYA, INDUSTRI MEDIA INDONESIA MENJADI SALAH SATU SEKTOR EKONOMI YANG PALING DINAMIS. HARUMI SUPIT MENDAPAT CUPLIKANNYA
Hanya sepuluh tahun lalu, media Indonesia yang dikenal penuh semangat, dulunya adalah termasuk salah satu yang paling dibatasi di wilayah regional ini. Namun kepulihannya tidak memakan waktu lama. Lima tahun sejak media dideregulasi pada tahun 1999, jumlah surat kabar bertambah tiga kali lipat hingga 800 nama, saluran televisi bertambah dari 6 ke 29, stasiun radio dari 600 ke 1.200, dan jumlah jurnalis tumbuh dari 6.000 ke lebih dari 25.000 menurut Inter Press Service.
Jadi bagaimanakah sektor media Indonesia merespon pertumbuhan global, seperti berkurangnya pesanan iklan akibat krisis finansial?
Media telah menyaksikan kenaikan jumlah pemain dalam pertelevisian, radio dan surat kabar cetak, yang berjuang dalam pasar yang stagnan atau bahkan menyusut.
Data Nielson menunjukkan bahwa hanya pertelevisian yang tumbuh pada 2007-2008, dengan penetrasi ke kota-kota besar mencapai 94 persen, sementara pendengar radio dan pelanggan media cetak menurun. Memasuki tahun 2009, penonton televisi non-satelit berkurang, mungkin beralih pada Internet atau lainnya, kata eksekutif Nielson Andini Wijendaro.
Sementara itu, TV kabel yang diwakili oleh penyedia layanan seperti Telkomvision dan Indovision, menikmati kenaikan penetrasi ke dalam rumah tangga hingga 803 persen antara 2007 dan 2008.
Organisasi-organisasi berita sementara itu menghadapi tekanan ekonomi, krisis global telah mengurangi pemasukan dari iklan.
Organisasi menghadapi tekanan ekonomi karena krisis global telah mengurangi pemasukan dari iklan. Mereka juga menghadapi isu bergesernya pelanggan dan pemasukan iklan ke Internet. Antara 2005 dan 2008, Nielson mencatat kenaikan pengguna internet di kota besar sebanyak enam kali lipat.
INOVASI TERKINI
Kehadiran surat kabar berbahasa Inggris dangan 48 halaman warna, the Jakarta Globe pada November 2008, menentang tren di dalam dan di luar negeri. Tambahan terkini portfolio media dari Lippo Group, yang juga memiliki majalah dan saluran kabel, merupakan saingan baru dalam pasar surat kabar berbahasa Inggris yang telah lama didominasi the Jakarta Post.
Dilain pihak, media mendukung produk fisik dengan produk online. Surat kabar Media Indonesia telah mendorong pertumbuhan situs interaktifnya. Alex Stefanus, Direktur Pengembangan Bisnis percaya bahwa sinergi antara surat kabar dan kehadiran online-nya adalah sangat penting.
Sementara Meidyatama Suryodiningrat, deputy chief editor surat kabar Th e Jakarta Post berkata bahwa ada perbedaan peran antara media cetak dan produk online.
“Di masa depan, surat kabar itu akan ditulis lalu di publikasikan melalui web. Salah satu hal yang paling menarik bagi saya adalah forum pembaca kami, dimana kami peroleh komentar-komentar dan opini pembaca. Kami ingin surat kabar ini menjadi tempat pertukaran ide.”
Bidang lain yang juga berkembang adalah media berbahasa asing, yang telah dibuktikan oleh suksesnya stasiun TV kabel seperti Kabelvision dan Indovision, yang membawa saluran-saluran asing.
Majalah remaja juga tengah menanjak. The Jakarta Post telah lama memasarkan sebuah produk tentang pendidikan, dan menerbitkan sisipan yang disukai pembaca, Th e Weekender.
Dalam hal televisi berbahasa Indonesia, Direktur Pemberitaan Metro TV Tommy Suryopratomo mengambil haluan yang menentang arus pertelevisian kini yang cenderung lebih banyak hiburan.
“Untuk 2009 kami menyusun program dengan 80 persen berita,” katanya. Strategi ini dipilih untuk membedakan Metro dari pesaingnya dengan mengurangi program ‘infotainmen’ dan menambah berita-berita serius.
CELAH KUALITAS
Satu kelebihan media non-Internet adalah kualitas beritanya. Aristides Katoppo, seorang jurnalis veteran dan pendiri surat kabar Sinar Harapan, menyayangkan popularitas berita di situs-situ populer yang seperti tabloid. “Spesialisasi mereka adalah gosip dan rumor, itu bukan berita,” kata Katoppo.
Th e Jakarta Globe, yang sejak awal merekrut karyawan berpengalaman dan profesional, yakin bahwa para pembaca akan tertarik pada kualitas dan mutu produksinya.
Media yang sedang tumbuh di negeri ini juga menghadapi kurangnya sumber daya jurnalis terlatih. Jurnalisme praktis tidak diajarkan di universitas-universitas di Indonesia, yang kebanyakan adalah bagian dari mata kuliah jurusan komunikasi.
Oei Eng Guan, seorang dosen jurnalistik di Universitas Nasional (UNAS), mengatakan bahwa kerja praktik tetap merupakan jalan terbaik untuk memulai karir di bidang media, karena organisasiorganisasi besar dalam bidang berita biasanya menyelenggarakan program in-house training dan pelatihan jurnalistik dari dasar. Dengan senang, Oei Eng Guan melanjutkan, “Yang paling penting adalah jurnalisme di Indonesia semakin baik.”
Apapun mediumnya, dunia media Indonesia menghadapi kenaikan permintaan akan berita berkualitas dan juga produk hiburan. Tantangannya, yang juga merupakan penentu bagi yang berhasil atau tidak, adalah bagaimana menyeimbangkan keduanya, serta menciptakan isi yang manarik dan unik bagi para pembaca.
Dari sisi pandang industri, pertunjukan bidang media harus tetap berjalan – namun siapa yang dapat bertahan, hal ini masih merupakan tanda tanya.
Kontak
THE JAKARTA GLOBE
Kawasan Bisnis Granadha, Plaza Semanggi 9th Floor, 50 Jln Jend Sudirman, Karet Semanggi, Jakarta, tel: (0)21 2553 5053, www.thejakartaglobe.com
INDOVISION
Wisma Indovision, 9th floor Blok Z / III, Jln Raya Panjang, Jakarta, tel : (0)21 582 5525 www.indovision.tv
THE JAKARTA POST
142-143 Jln Palmerah Barat, Jakarta, tel: (0)21 530 0476, www.thejakartapost.com
MEDIA INDONESIA
Kompleks Delta Kedoya, Jln Pilar Raya, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta, tel : (0)21 581 2088, www.mediaindonesia.com
METRO TV
Jln Pilar Mas Raya, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta, www.metrotvnews.com tel: (0)21 5830 0077
SINAR HARAPAN
1B-1D Jln Raden Saleh, Cikini, Jakarta, tel: (0)21 391 3880, www.sinarharapan.co.id
TELKOMVISION
TELKOMVision Building 3rd Floor, 139 Jln Prof Dr Supomo, Jakarta, tel: (0)21 829 8800 www.telkomvision.com
This entry was posted on Wednesday, April 1st, 2009 at 12:00 am and is filed under Transit Time(in). You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.



