Print This Post AddThis Social Bookmark Button  Email This Post

Liar di Hati

April 1st, 2009 by admin

LIAR DI HATI

MANUSIA MENYEBABKAN MEREKA TERASING DARI ALAM LIAR  BISAKAH KITA MEMBANTU MEREKA UNTUK KEMBALI? HARUMI SUPIT MENGAMATI PERJALANAN ORANGUTAN-ORANGUTAN KITA

Terpisah dari daratan oleh sungai-sungai, orangutan-orangutan merah di Hutan Samboja Lestari, Kalimantan Timur, sama sekali terpisah dari manusia. Hewan luar biasa yang tinggal di enam buah pulau buatan, 38 kilometer dari Balikpapan ini sedang dalam proses rehabilitasi untuk mengembalikan mereka ke alam liar. Adegan-adegan mengagumkan primata berwarna merah menyala yang bersarang di pohon dan mencari buah-buahan, hampir-hampir membuat anda melupakan kisah sedih mereka.

Dengan wajah mereka yang ekspresif, ikatan sosial dan tingkat inteligensi yang tinggi, orangutan memiliki sangat banyak kemiripan dengan manusia. Kita memiliki 97 persen DNA yang sama, kita sama-sama membangun rumah sebagai tempat tinggal, dan sama-sama menggunakan alat.

Namun jumlah orangutan kita terus menyusut akibat tekanan manusia.

Saat ini, sekitar 40.000 orangutan Borneo diperkirakan berada di hutanhutan Kalimantan, dan sekitar 6.000 orangutan berada di Sumatra. Para ahli memperkirakan spesies-spesies orangutan tersebut, yang tidak dapat ditemukan di manapun selain di Kalimantan dan Sumatra, dapat punah dalam jangka waktu sesingkat 25 tahun.

Menurut Desmarita Murni, ancaman terbesar bagi orangutan adalah berada terlalu dekat dengan manusia. “Yaitu hilangnya habitat dan perburuan liar,” kata koordinator komunikasi World Wildlife Fund di Jakarta. Murni menyatakan solusi yang paling efektif melibatkan usaha mengurangi penggundulan hutan, dan mematahkan kegiatan perdagangan dan pemburuan orangutan, yang walaupun ilegal, tidak ditegakkan dengan keras.

Walaupun gambarannya suram, manusia juga dapat berperan dalam memperbaiki situasi ini. Seperti kebanyakan usaha konservasi, memanfaatkan kekuatan pariwisata boleh jadi efektif. “Saya rasa ecotourism yang dapat bertahan lama pastinya akan memiliki peran dalam upaya pelestarian,” kata Helen Buckland, Direktur di Inggris bagi Sumatran Orangutan Society.

Masalahnya adalah, melihat orangutan tidak berarti akan menyelamatkan mereka. “Banyak pengunjung yang datang ke Indonesia mungkin tidak menyadari perbedaan antara pariwisata alam liar atau sekedar mengunjungi dan melihat orangutan, dan ecotourism yang bertahan lama.”

Praktik-praktik yang bertahan lama memerlukan aksi yang seimbang – pengunjung juga harus mengikuti peraturan-peraturan yang ketat demi memastikan kesenangan mereka seimbang dengan manfaat bagi komunitas lokal, sementara juga meminimalisir akibat negatif pada alam liar, katanya.

Dalam kondisi ideal, orangutan dalam rehabilitasi tidak dibolehkan memiliki kontak dengan manusia. Dalam konteks ini, salah satu program di Indonesia yang paling sukses hingga saat ini adalah Program Rehabilitasi Hutan Samboja Lestari.

Didirikan pada tahun 2001 di bawah organisasi nonprofit Borneo Orangutan Survival Foundation, tujuan utama proyek ini adalah untuk mengembalikan orangutan ke hutan. Terdapat tahap-tahap yang dilakukan, dimana primata ini secara perlahan dikenalkan ke habitat alami mereka hingga pada akhirnya mereka ditempatkan di habitat yang pantas yang jauh dari manusia.

 

“Ketika anda bicara mengenai berkontribusi kepada pelestarian orangutan melalui pariwisata, Saya pikir Samboja Lestari adalah tempat yang terbaik,” kata Lucas Zwaal, pemilik De’Gigant Tours, sebuah operator pariwisata dengan pengalaman 20 tahun di Kalimantan.

“Mereka memiliki paket-paket tur sukarelawan, dan dana yang mereka galang dari Eco Lodge-nya dan dari kunjungankunjungan digunakan untuk pelestarian orangutan dan beruang madu.”

Namun Zwaal berkata pengunjung harus bersabar dengan batasan-batasan yang ditetapkan mengenai kontak dengan orangutan-orangutan itu, yang tujuan akhirnya seharusnya di alam liar lagi – bukannya menjadi binatang peliharaan ramah di taman hutan.

“Samboja Lestari adalah langkah terakhir dalam proses rehabilitasi untuk menjadi liar lagi. Selama seluruh proses rehabilitasi, orangutan belajar bahwa manusia adalah musuh mereka,” kata Zwaal. “Ini sedikit berbeda dengan proyek-proyek lainnya, dimana orangutan menjadi bagian dari taman nasional untuk pariwisata selamanya, dan manusia bahkan bisa memberi makan dan memeluk mereka.”

Samboja Lodge pada awalnya didirikan untuk menaungi para sukarelawan, lalu beritanya beredar dari mulut ke mulut sehingga para pelanggan yang membayar datang. Selain mengamati orangutan dari kejauhan, pengunjung dapat membantu staf menyiapkan makanan orangutan dan memperbaiki habitat mereka. Menurut Dr. Grainne McEntree, kepala operasional BOS, sebanyak US$6,5 juta dibutuhkan setiap tahunnya untuk membiayai program-program BOS termasuk Samboja Lestari Park Awareness dan donasi-donasi sangat dibutuhkan untuk program-program ini.

Walaupun saat ini tidak mungkin mengatakan apakah usaha-usaha ini dapat memastikan kelangsungan orangutan, mereka menawarkan bermacam kepastian. Lucas Zwaal contohnya mengatakan, dengan harapan dalam suaranya. “Saya rasa mereka akan bertahan.”

Contacts Kontak

BOS UK
8 Temple Square, Aylesbury, HP20 2QH, United Kingdom, tel: +44 (0)84 5652 1528 www.savetheorangutan.co.uk

De’Gigant Tours
1 Martadinata Raudah St, no 21 Samarinda, East Kalimantan, tel: (0)54 1713 3733, www.geocities.com/degigant

Samboja Lodge
Balikpapan-Handil St, Km 44, Margomulyo, Samboja, East Kalimantan, tel : (0)54 2711 1484, www.sambojalodge.com

Sumatran Orangutan Society (SOS) UK
The Old Music Hall, 106-108 Cowley Road, Oxford, OX4 1JE, England, United Kingdom, tel: +44 (0)18 6540 3341

 

This entry was posted on Wednesday, April 1st, 2009 at 12:00 am and is filed under Arrivals(in). You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply