Print This Post AddThis Social Bookmark Button  Email This Post

Cita Rasa Perayaan

July 1st, 2009 by admin

TELAH LAMA DIANGGAP SEBAGAI SEBUAH PUSAT KEBUDAYAAN TRADISIONAL INDONESIA, JOGJAKARTA JUGA MERUPAKAN SEBUAH KOTA PENUH DENGAN SEMANGAT BARU, SEPERTI YANG DITULISKAN OLEH NATASHA DRAGUN

Jalanan telah sibuk pada waktu subuh. Penjaga toko sekitar Pasar Burung dengan malas bangun dan membuka penutup sang-kar-sangkar yang berisi beragam binatang – tidak hanya burung, namun juga kum-bang, serangga, kadal dan kelelawar. Mereka bergerak secara harmonis seiring dengan matahari terbit di atas gedung-gedung bersejarah di kota itu.

“Jogjakarta selalu menjadi pusat kreatifitas,” kata Nn. Mie Cornoedus, salah satu pendiri Via Via Cafe, kafe seni di kota ini. “Selalu ada banyak inovasi yang muncul di sini.”

Bagi masyarakat Indonesia dan pengunjung mancanegara, kota di tengah Jawa ini telah lama dianggap sebagai penyokong kesenian dan kebudayaan Indonesia. Dengan jumlah penduduk tiga juta orang, masa keemasan Jogjakarta adalah di tahun 1940-an dimana ia menjadi ibukota Republik Indonesia dari tahun 1946 hingga 1950. Universitas-universitas tumbuh di penjuru kota, memberikan kota ini semangat muda dan menjadi daya tarik bagi pemikir-pemikir Indonesia yang terbaik, cerdas dan paling kreatif.

Dalam tahun-tahun tersebut beberapa seniman terpenting negeri ini hijrah ke sini, termasuk nama-nama seperti Affandi, Sujoyono, dan Hendra Gunawan. Mereka mendirikan Pelukis Indonesia Muda, untuk mengembangkan bakat penduduk lokal. Grup-grup lainnya segera menyusul, menjadikan Jogja yang terdepan dalam kreatifitas dan mampu bertahan hingga kini.

Pada bulan Mei 2006, provinsi ini mengalami musibah gempa bumi berkekuatan 6.3 skala richter. Ratusan ribu rumah hancur.

“Melalui semua penderitaan tersebut, masyarakat setempat menjadi bersatu,” kenang Comoedus, yang telah tinggal di Jogja selama lebih dari 14 tahun. Kafenya terletak di jalan kecil yang terkenal, Prawirotaman. Disini, para pengunjung menghirup kopi Jawa yang kental sembari mengamati kesenian lokal dan mendengar band pop indie setempat yang manggung secara spontan, di garasi terbuka di sepanjang jalan. “Gempa bumi ini tidak diragukan lagi telah mengangkat kreatifitas kota ini ke permukaan. Ada letupan semangat disini.”

Semangat tersebut masuk ke dunia seni dan industri pariwisata. Dunia perhotelan telah berkembang dan Jogja sekarang merupakan rumah bagi banyak hotel butik, termasuk Hotel Phoenix yang trendi.

“Kesuksesan Jogja adalah terutama dilatarbelakangi oleh terjaganya sentuhan asli dan kebudayaan tradisional Jawa,” kata Franck Loison, general manager hotel MGallery Collection di Indonesia yang pertama milik Accor group.

Mendiami gedung cantik dari tahun 1918, hotel ini menggabungkan gaya dekorasi Jawa dan Cina antik nan elegan. Senada dengannya adalah Villa Hani’s, rumah penginapan Jawa terbuat dari kayu yang diperbarui dengan indah, dan Rumah Sleman Private Boutique Hotel, sebuah penginapan 15 kamar dengan nuansa kerajaan.

Beberapa galeri seni baru muncul setelah tahun 2006, termasuk Galeri Jogja yang mahsyur, di seberang galeri Kraton yang merupakan pendukungnya. Pameranpamerannya menampilkan kesenian modern Indonesia terbaru dari senimanseniman muda yang sedang naik daun bersama dengan seniman senior, termasuk kelompok seniman lokal seperti Taring Padi, dan Apotik Komik, sebuah kolompok seniman dengan minat ke graffiti yang classy.

Kelompak yang kedua merupakan salah satu pendorong di balik pergerakan kesenian urban tahun 2002 yang turun ke jalan dengan dukungan Sultan. Kota yang terkenal akan kesenian dan kebudayaannya ini menjadi kota mural urban berjiwa muda. Sebagai bagian dari usahanya untuk merayakan dunia seni Jogja, pemerintah lokal mengalokasikan lebih dari 11,000 meter ruang dinding di sekitar kota untuk lukisan mural.

Seniman dan masyarakat bergabung bersama untuk menghias kota. Acara serupa bermunculan setelah itu – yang terakhir adalah sekelompok seniman Amerika melukis mural berskala besar di sekitar Jogjakarta.

Kota ini kini adalah kaledoskop penuh warna. Telusuri jalan-jalan kecil di sekitar Kraton dan anda akan menemukan gambargambar ikan bermata besar meloncat keluar dari mangkuk, juga beberapa pesan pelayanan masyarakat yang lebih serius mengenai kesehatan dan keselamatan publik. Bahkan di pemukiman yang padat, ribuan gubuk yang berhimpitan di pinggir kali terlihat cerah. Anak-anak bermain sepak bola di lereng berdebu, tanpa memperdulikan karakter kartun raksasa di dinding dekatnya yang memperingatkan orang tua untuk mengimunisasi anakanak mereka. Suntikan budaya kota ini bertepatan dengan perkembangan global yang tengah menyorot kesenian di Asia, memberikan dorongan yang dibutuhkan kesenian lokal.

“Akhir-akhir ini, dunia seni di sini telah menjadi lebih umum,” kata Cornoedus.

Daftar acara besar di Yogjakarta kini termasuk Festival Kesenian Yogyakarta, Festival Gamelan Internasional, dan Biennale Yogyakarta. Dalam skala lebih kecil, Galeri Cemeti telah mendirikan program residensial Landing Soon, yang mendatangkan seniman-seniman Belanda untuk tingal dan berkolaborasi dengan seniman-seniman Indonesia. “Ini adalah kolaborasi luar biasa antara Timur dan Barat,” kata Cornoedus.

Tempat lainnya yang mengadakan acara kesenian termasuk Tembi Contemporary, galeri berangin di daerah pinggiran kota, lengkap dengan penginapan yang tenang. Sri Sosanti, yang berada disamping Hyatt Regency, menjadi tuan rumah pameran seni visual karya seniman-seniman terdepan negeri ini. Tempat ini menghadap bentangan taman hijau dan butik apik yang menjual barang kerajinan lokal.

Untuk urusan mode, salah satu tempat terbaik untuk berbelanja adalah MC2 , tempat baru dengan deretan butik-butik yang sangat keren dari desainer-desainer Indonesia paling kreatif – street wear dari merek-merek seperti Castle Rock, Mighty, Rockmen, dan Badger.

Banyak bakat-bakat baru datang ke kota ini karena energi kreatifitas masa lampaunya. “Masyarakat Indonesia dan mancanegara yang terus bertambah jumlahnya akan terus tertarik ke Jogjakarta karena ia adalah jantung dari kebudayaan Jawa,” kata Loison.

“Disinilah Indonesia yang sebenarnya bisa ditemukan”

Kontak

Bentara Budaya Gallery
Jln Suroto No. 2, Kota Baru tel: (0)274 56 0404
Cemeti Art House
Jln D.I. Panjaitan 41 tel: (0)274 37 1105
Jogja Gallery
Jln Pekapalan 7 Alun-Alun Utara tel: (0)274 41 9999
Kedai Kebun
Jln Tirtodipuran 3 tel: (0)274 37 6114
Via Via Café & Gallery
Jln Prawirotaman 30 tel: (0)274 54 0171
V Art Gallery & Café
Jln Laksda Adisucipto 165 tel: (0)274 581 1027
Tembi Contemporary
Jln Parangtritis tel: (0)274 688 1919
MC2 Mall
Jln Abu Bakar Ali 2 tel: (0)274 702 9085
Sasanti Restaurant & Gallery
Jln Palagan TP No. 52 A Sariharjo Ngaglik tel: (0)274 650 9860

This entry was posted on Wednesday, July 1st, 2009 at 12:00 am and is filed under Arrivals(in). You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply