Print This Post AddThis Social Bookmark Button  Email This Post

Mendandani Masa Depan

July 1st, 2009 by admin

DUA PERANCANG BERBAKAT DI DUNIA FASHION INDONESIA BERBAGI CERITA DAN SARAN MENGENAI BUSANA DENGAN VE HANDOJO

Catwalk di dalam toko fashion bermerek Harvey Nichols telah diserbu oleh model-model ramping, yang berpakaian merah menyala. Mereka berjalan maju penuh percaya diri, masing-masing membawa harapan Stella Rissa. Bagi wanita bertubuh kecil berusia 24 tahun yang berdiri di antara patung manekin berbusana Oscar de la Renta dan Alexander McQueen, ini merupakan momen yang besar. Saat sorot lampu terangkat, Rissa dianugerahi penghargaan Indonesian New Designer 2009 oleh ELLE Indonesia.

Berdasarkan standar, industri mode Indonesia bergerak lambat dalam tiga dasawarsa terakhir. Walaupun inovasi tidak kurang banyak, hambatan bisnis sering kali menghalangi awal yang menjanjikan. Sampai saat ini, perancang lokal jarang mencapai pasar massal Indonesia. Dalam dasawarsa terakhir, konsumen Indonesia yang lebih percaya diri dan industri yang semakin kuat yang menunjukkan perubahan. Yang membantu perubahan ini adalah sekumpulan wajah baru, yang membawa pengetahuan industri yang lebih luas, semuanya berkat kerja praktek dan beasiswa di bidang fashion. Sementara itu, perancang seperti Stella Rissa menunggu waktu yang tepat.

“Stella dapat menciptakan sisi feminin seorang wanita dalam busana dengan karakter yang kuat, tapi mampu membuatnya tetap seksi,” ujar Amanda Prihutomo, editor fashion ELLE Indonesia. Setelah lulus sebagai siswa terbaik dari LaSalle College Jakarta di tahun 2006, Rissa mempersiapkan serangkaian busana siap pakainya yang baru, STELLA.R, untuk butik Blackmarket di Audi Singapore Fashion Festival.

Nama lain yang sedang naik daun di dunia rancang busana adalah Rama Dauhan, kepala perancang untuk merek pakaian lokal (X)S.M.L. Label ini merupakan rangkaian streetwear dari Biyan Wanaatmadja, seorang legenda di dunia mode Indonesia. Dauhan, lulusan ESMOD Jakarta, memainkan peran penting dalam kesuksesan merek tersebut dalam enam tahun terakhir.

Di balik kacamatanya yang besar, Dauhan yang berusia 27 tahun ini sangat bersemangat saat menceritakan labelnya. “Ini merupakan koleksi siap pakai dengan sentuhan perancang - nama lokal yang dapat kita pakai dengan bangga.”

Para kritikus pun terpesona. “Dinamika dan konstruksi yang stylish dari setiap rancangan, dibasuh dalam warna-warna natural, telah menjadi ciri khas gaya (X)S.M.L,” ujar editor Men’s Folio Indonesia, Maesa Nicholas. “Rancangan Rama mendorong konsumen untuk tidak sekedar mengikuti tren, tapi memulainya.”

Pada awal kariernya, keluarga Rama tidak memberikan dukungan. “Orang tua saya tidak tertarik dengan gagasan di mana putra semata wayang mereka menjadi perancang busana,” ucapnya sambil tersenyum. “Ayah saya adalah seorang insinyur sipil, kakak perempuan tertua saya adalah seorang arsitek yang berbasis di New York. Fashion lebih berkesan glamor dan tidak serius.”

Sangatlah sulit untuk menjadi perancang busana yang kredibel dan sukses secara finansial di Indonesia, terutama bagi mereka yang menjauhi payet, bulu, serta bordiran yang menghiasi gaun pengantin supermahal atau gaun pesta khusus. “Saya selalu memastikan bahwa gaya saya tidak terlalu jauh keluar dari substansinya,” ujar Rissa.

Untuk STELLA.R, Rissa akan membatasi produksi setiap rancangannya sebanyak dua belas potong. “Sehubungan dengan gaya, saya sedang berada dalam masa yang dinamis,” ujarnya.

“Saya belum mau terpaku pada suatu gaya tertentu. Sebagai contoh, saya tidak pernah menyukai warna pink, tapi koleksi yang saya persiapkan untuk Blackmarket akan didominasi oleh warna pink dan hitam. Saya senang keluar dari batasan saya sendiri.”

Dauhan mengakui ingin mempunyai labelnya sendiri, terutama untuk laki-laki.

“Tapi saya masih harus belajar banyak, dan kembali ke sekolah fashion.” Penggila kerja ini mengatakan bahwa ia menyukai kondisi yang tenang saat bekerja. “Saya suka bekerja di kantor bersama dengan tim saya yang beranggotakan empat orang, dan mungkin ditemani dengan lagu-lagu yang santai.”

Rissa mengatakan, “Saya senang bekerja pada saat semua orang sudah tidur. Saya sendiri di ruangan saya, pintu terkunci, sambil mencoba beberapa sampel garmen. Saya akan mengenakan tank top dan celana pendek - tapi kadangkadang tidak memakai apa pun.”

Jadi apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam gaya fashion sehari-hari? Untuk wanita karir yang sibuk, Rissa menyarankan untuk mengenakan pakaian yang nyaman, untuk mempermudah gerak.

“Padankan dengan blazer formal, mungkin yang panjang dan berwarna beige, dengan kemeja putih. Gunakan sabuk - dan jam tangan yang cantik, aksesori yang lebih fungsional daripada gelang.”

Karena tidak semua pria pelancong bisnis memiliki bentuk tubuh yang sempurna, Dauhan menyarankan untuk membawa pakaian dengan warna-warna dasar semisal hitam dan navy blue.

“Cobalah lebih fleksibel dalam memilih celana. Gayanya tidak harus selalu formal, kadang celana cargo dapat dipakai. Padankan dengan kemeja linen yang nyaman. Aksesori seperti jam tangan, tas, dan sepatu merupakan hal yang vital.”

Bakat dan etos kerja Rissa, Dauhan dan perancang muda Indonesia yang kreatif lainnya akan memerlukan sejumlah keberuntungan dan dukungan untuk mengangkat mode Indonesia ke level berikutnya. Namun di tangan mereka, masa depan Indonesia tampak bergaya.

Kontak

(X)S.M.L
Level 2, E17-18, Plaza Indonesia, 28-30 Jln MH Thamrin, tel: (0)21 3190 0103
STELLA RISSA
Sunrise Garden, 12a Jln Surya Timur, Block 3F tel: (0)21 582 1205

This entry was posted on Wednesday, July 1st, 2009 at 12:00 am and is filed under Transit Time(in). You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply