Musik
July 1st, 2009 by admin
RASA SATU DASAWARSA
BAND FAVORIT ERA REFORMASI ASAL JOGJA INI TELAH GENAP BERUSIA SEPULUH TAHUN DAN KEMBALI KE FORMAT AWALNYA. DIYANA ALAN MELAPORKAN.
Saat Sheila On 7 muncul pertama kali di tahun 1999, pencinta musik Indonesia mendapatkan alasan untuk tersenyum. Di tengah era reformasi yang sulit, jenis musik mereka yang membuat ketagihan ini sejalan dengan jiwa anak-anak muda. Lagu-lagu mereka, dan sekitar 29 single, yang dapat menembus puncak tangga lagu menjadi bukti bahwa mereka bukan sekadar band musiman.
Tahun lalu, Sheila meluncurkan album keenamnya, Menentukan Arah, yang juga menuai sukses. CD album ini terjual sebanyak 50.000 keping di seluruh Indonesia. Mengenai album ini, kritikus musik Denny Sakrie berkomentar, “Album ini kembali ke gaya awal Sheila On 7 – sederhana, gampang diingat tapi jelas lebih dewasa. Sheila On 7 telah menentukan kembali arah musik mereka.”
Walaupun belum bisa menyamai kesuksesan mereka sebelumnya, band yang dimotori Duta Modjo (vokal), Adam Subarkah (bas), Eross Chandra (gitar) dan Brian Kresno (drum) ini tetap berkembang. Dibentuk tahun 1996, sama seperti kebanyakan band lain di Indonesia, Sheila On 7 memulai perjalanannya di SMA.
Konsep mereka sederhana saja - musik spontan dengan aransemen yang tidak njelimet ditambah lirik yang jujur apa adanya menghasilkan lagu-lagu yang enak didengar sekaligus pertunjukan live yang menggebrak. Seiring perjalanan musiknya, ciri khas band ini menjadi campuran antara lagu-lagu lembut dan lagu-lagu rock yang berirama cepat dengan sedikit pengaruh pop. Musik yang memberikan rasa kebebasan, dibumbui tema romantika anak muda, mendapat tempat di masa-masa penuh ketegangan.
Alunan musik mereka tidak hanya menuai sukses di Indonesia, tapi juga di negara tetangga Malaysia dan Singapura, di mana Sheila On 7 mendapat jam tayang rutin di saluran-saluran televisi Malaysia. Walaupun band-band lokal lain bermunculan, Sheila On 7 tetap mendapat tempat khusus di hati penggemarnya.
Adam, sang pembetot bas, tetap berkomitmen untuk menciptakan musik dari hati, bukan sekadar untuk mendapatkan keuntungan komersial. “Kami sangat senang, kaget malah, karena kami bisa tetap populer sampai saat ini. Kalau bukan karena kecintaan kami terhadap musik, atau kalau kami hanya ingin mendapatkan uang, saya rasa kami sudah memilih jalur karier yang berbeda sejak lama.”
Satu dasawarsa setelah peluncuran album debut mereka, band ini - seperti halnya Indonesia - telah mengalami banyak perubahan. Untuk album yang diluncurkan tahun lalu, Sheila On 7 memilih untuk memproduksinya tanpa sound engineer.
“Berbeda dengan album-album kami sebelumnya, kami tidak menyertakan jam session yang hingar-bingar untuk berimprovisasi. Kami mengedit musik kami secara langsung menggunakan komputer. Secara umum, rasa musiknya menjadi lebih kalem,” Adam menjelaskan. Seperti halnya proses reformasi Indonesia, setelah melewati satu dasawarsa masa sulit, kondisi saat ini yang lebih tenang merupakan kabar baik bagi Sheila On 7 dan para penggemarnya.
This entry was posted on Wednesday, July 1st, 2009 at 12:00 am and is filed under Transit Time(in). You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.



