Print This Post AddThis Social Bookmark Button  Email This Post

Tetesan Emas

July 1st, 2009 by admin

SEBAGAI PRODUSEN BESAR DUNIA, INDONESIA TENGAH MENGEMBANGKAN PERDAGANGAN KOPI LOKALNYA. HARUMI SUPIT MENCICIPI DAN MELAPORKAN

Layaknya cinta pertama, aroma khas kopi yang baru disangrai begitu menggiurkan dan penuh kehangatan. Konon kopi, seperti layaknya manusia, berasal mula dari Afrika, ketika seorang penggembala di Etiopia sadar bahwa kambingnya menjadi lincah setelah memakan biji dari suatu tanaman.

Pengetahuan mengenai minuman ajaib ini menyebar cepat sepanjang rute-rute perdagangan, dan sebelum tahun 1000 Masehi bangsa Arab telah sibuk membuat kopi. Bangsa Belanda berhasil menyelundupkan benih kopi ke Eropa pada tahun 1616, serta ke kolonikoloninya, termasuk Jawa dan daerah yang kini menjadi Sumatra. Ekspor kopi pertama Indonesia dari Jawa terjadi pada tahun 1711, sebuah awal dari industri bernilai jutaan dolar.

Kini, Indonesia merupakan produsen kopi terbesar keempat di dunia setelah Brazilia, Vietnam dan Kolombia. Produksi terbesarnya berasal dari Sumatra, Jawa, Bali, Sulawesi, Flores dan Papua, dengan lebih dari 90 persen kopi Indonesia ditanam di kebun-kebun seluas kurang lebih satu hektar. Amerika Serikat, Eropa Barat dan Jepang adalah pasar ekspor terbesar Indonesia, namun permintaan di Cina dan Rusia juga meningkat. Ekspor biji kopi Indonesia mencapai 437.000 ton pada tahun 2008, yang bernilai US$956,86 juta. Konsumsi domestiknya diperkirakan mencapai 150.000 ton.

Produksi kopi pada umumnya terbagi antara jenis Robusta dan Arabika. Robusta lebih mudah diproduksi dan relatif lebih murah, namun juga lebih asam dan kurang cita rasanya. Walaupun produksi utama Indonesia adalah Robusta, namun negara ini juga dikenal akan Arabikanya yang bercita rasa tinggi. Sekitar 20 persen dari ekspor Indonesia adalah Arabika, termasuk kopi-kopi spesial yang dapat memberikan keuntungan tinggi untuk diperdagangkan di Bursa Kopi New York.

Seperti minuman anggur, biji kopi dari daerah yang berbeda mempunyai rasa yang berbeda pula. Kopi Sumatra, termasuk jenis-jenis yang terkenal seperti Mandheling dan Gayo, memiliki rasa yang halus dan pekat. Ramuan kopi Jawa kaya citarasa dan kuat , sementara kopi dari Sulawesi kaya cita rasa namun manis. Kopi Bali adalah yang termanis dan terlembut, sementara biji-biji kopi dari Flores dan Papua mengandung sedikit karakter cokelat dan tanah.

Seiring dengan produksinya yang pesat, sejak dulu masyarakat Indonesia memiliki tradisi minum kopi. Populer baik di kalangan kaya dan miskin, kopi cukup beragam untuk menembus batasan-batasan kelas, dijual mulai dari kios pinggir jalan hingga hotel berbintang.

“Kami menjual kopi, baik yang jenis instant maupun dalam kaleng yang didinginkan,” kata Andrew Wibowo, pemilik sebuah minimart kecil di Jakarta Selatan. “Dan selalu laku.” Secara tradisional, bijibiji kopi dipilih, dijemur lalu digiling dan dituangkan ke air mendidih ditambah gula untuk membuat kopi tubruk yang kental.

Di jaman modern, kopi campur instan telah terbukti menguntungkan dan didominasi oleh merek-merek lokal seperti Kapal Api.

Pasar konsumen yang besar masih terus berkembang, didorong oleh pemasaran yang agresif, campuran baru yang inovatif dan kenyamanan sebagai daya tarik. Lebih eksotis lagi Indonesia juga merupakan asal dari kopi luwak, kopi termahal di dunia, yang berasal dari biji kotoran yang dicernaan oleh hewan sejenis musang. Kopi ini dapat dijual dengan harga ratusan dolar per kilogram. Sementara itu, penghargaan terhadap kopi Arabika jenis premium terus berkembang, digerakkan oleh pengaruh asing akan budaya kopi global dan jumlah kelas menengah yang berkembang.

“Status kopi tengah mengalami perubahan,” kata Rachim Kartabrata, sekretaris eksekutif Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI). Di masa lalu, pekerja pabrik yang membutuhkan penambah semangat meningkatkan popularitas kopi, kini masyarakat yang lebih muda dan memiliki uang yang mempopulerkannya. “Setelah tahun 1998, diperkirakan konsumsi kopi akan menurun seiring dengan krisis ekonomi. Namun yang terjadi malah sebaliknya, yang didorong oleh kios kopi asing seperti Coffee Bean dan Starbucks, lalu diikuti dengan berkembangnya kioskios kopi lokal. Mereka meniru Coffee Bean dan Starbucks termasuk bagaimana menyajikannya dalam cara yang mutakhir – sebagai sebuah seni.”

Lukman telah setahun menjadi Barista di bar kopi lokal di Jakarta yang terkenal Anomali Coffee. Rata-rata harga di Anomali adalah 30,000 rupiah untuk segelas kopi, di tengah-tengah suasana layaknya Boston atau San Fransisco. Lukman dengan sabar menjelaskan perbedaan rasa antara kopi Aceh Gayo dan Toraja Kalosi. “Kalosi manis dan kuat,” katanya. Lukman berkata bahwa ia suka tantangan mempelajari kopi, dan menyampaikan pengetahuannya kepada para pembeli.

Walaupun ini merupakan kabar baik bagi tempat-tempat yang menyediakan specialty coffee, jalan masih panjang untuk mengembangkan budaya kopi yang matang. Sebuah survei pada tahun 2006 oleh pengusaha kopi mikro Merdeka Coffee menunjukkan bahwa 85 persen masyarakat Indonesia lebih memilih kopi yang ditanam di Italia daripada kopi asal Indonesia, walaupun sebenarnya Italia tidak memproduksi kopi. Meningkatnya budaya kafe, digambarkan oleh kedai kopi lokal seperti Excelso, Regal, Brew & Co lebih condong sebagai tempat untuk makan, minum serta bersosialisasi, dan bukannya untuk belajar dan menikmati kopi premium.

Losari Coffee Plantation Resort and Spa di Magelang, Jawa Tengah menawarkan tur untuk melihat proses produksi kopi. Resort yang terkenal ini, menawarkan Coffee Plantation Tour berdurasi satu jam berdasarkan permintaan, dan meliputi seluruh proses mulai dari penanaman hingga penggilingan. Di penghujungnya, para tamu disuguhkan kopi dengan cara tradisional Jawa, di tengah-tengah perkebunan.

Di tengah-tengah semua ini, sulit untuk percaya bahwa kopi sebagai gaya hidup di Indonesia terancam musnah. Namun semua ancaman seperti hujan yang tidak menentu atau berkurang akibat perubahan iklim, kompetisi dengan penggunaan lahan lain seperti bio-fuel, dan berkurangnya petani memberikan ancaman yang nyata. Solusinya adalah tentu saja, dengan minum lebih banyak kopi - terutama yang berasal dari biji-bijian dengan kualitas bagus dari pasar fair-trade, sehingga para petani mendapatkan keuntungan lebih banyak. Bagi jutaan penggemar kopi sejati, ini mungkin terdengar sebagai obat yang mudah dicerna. “Saya cinta kopi ,” ucap Arsianti, seorang konsultan kelahiran Bali, “Saya tak bisa memulai hari tanpanya.”

Kontak

ANOMALI COFFEE
35 Jln Senopati Kebayoran Baru, Jakarta tel: (0)21 5292 0102 www.anomalicoffee.com
INDONESIAN ASSOCIATION OF COFFEE EXPORTERS
20 Jln RP Soeroso, Jakarta tel: (0)21 310 6765
LOSARI COFFEE PLANTATION RESORT & SPA
Magelang 56100, Central Java tel: (0)298 59 6333 www.losari.info
MERDEKA COFFEE
Plaza Niaga II No. 88 Block G Jln MH Thamrin, Bukit Sentul West Java tel: (0)21 8796 2386 www.merdekacoffee.com

This entry was posted on Wednesday, July 1st, 2009 at 12:00 am and is filed under Transit Time(in). You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply