Print This Post AddThis Social Bookmark Button  Email This Post

BUKAN LIBURAN BIASA

October 1st, 2009 by admin

MENCARI KETENANGAN JAUH DARI KOTA, SIMON WONG MERAMBAHI BUKIT DAN JALAN-JALAN SEPI MENUJU AREA TERPENCIL DI BALI

PHOTOGRAPHY | SIMON WONG

Angin sejuk berhembus melewati balkon rumah pohon saat kami berlatih yoga di pagi hari; tidak jauh dari situ, deru ombak mengalun di belakang kami. Seorang peselancar Jepang merebahkan diri di atas tempat tidur gantung. Tapi sebagian besar pemandangan tetap menjadi milik kami.

Kali ini, kami mengunjungi Bali untuk mendapatkan ketenangan. Berkat jip dan skuter sewaan, kami menemukan beberapa pengalaman tak terlupakan - misalnya melaju sepanjang jalan yang kosong menuju Kintamani; menyeruput kopi di Benteng Belanda; atau tinggal di gubuk kampung di pantai sebuah pulau kecil yang dapat dijelajahi dengan berjalan. Perjalanan membawa kami ke arah utara dari Jimbaran menuju Munduk dan Lovina sebelum akhirnya berbalik ke selatan menuju pelabuhan kecil Padangbai, tempat kami menyeberang ke Pulau Gili, Lombok. Dalam perjalanan pulang, kami kembali ke Seminyak.

Di setiap tempat, kami mencari hal-hal yang tidak biasa. Di Jimbaran, dekat bandara di bagian selatan, kami pergi ke pantai jam 5.30 pagi. Ujung utara dipenuhi para nelayan dalam kelompok-kelompok kecil yang menarik perahu mereka ke pantai. Tangkapan segar menggeliat-geliat dalam tangan-tangan sigap pedagang pasar yang mengenakan pakaian berwarna mencolok, masing-masing mengajukan penawaran harga. Ikan todak besar tergeletak di pasir, menunggu sang pembeli. Secara perlahan, matahari melukis bayangan panjang pagi hari melintasi area penuh warna.

Setelah merasakan kesegaran pagi hari, kami menuju ke utara. Segera saja, dataran tinggi Bali dekat Bedugul menyajikan pemandangan terbuka yang dramatis menghadap ke selatan, memandang seantero pulau. Udara di sini lebih dingin, dan kami menemukan bukitbukit penuh stroberi sekaligus beberapa restoran yang menyajikan jus segar nikmat dan panorama lembah yang menakjubkan. Di Bukit Singaraja ini, kami pun merasakan anggur merah Singaraja khas Bali.

Jalan berpemandangan indah memutari tepi kawah gunung berapi membawa kami ke Munduk. Saat memasuki benteng peninggalan Belanda melalui perjalanan memutar yang panjang, kami sekilas melihat kehidupan di dalam bungalow kolonial, yang salah satu penghuninya yang ramah menawari membawa kami berkeliling kompleks. Di sini terasa bahwa tempat tersebut ditinggalkan secara mendadak oleh penghuni aslinya karena semua perabotan asli tetap tertata di tempat asalnya. Bagian resepsionisnya bahkan masih memiliki lemari tua yang menjulang dari lantai sampai ke langit-langit.

Saat mencari cita rasa zaman kolonialisme, kami segera mendapatkan ciri khas Munduk - kopinya yang nikmat. Di bukit ini terletak perkebunan kopi, kakao dan cengkeh terbaik Bali, masing-masing memiliki vila-vila kecil di dalamnya. Kami menyeruput kopi yang baru saja digiling di teras kami, yang menyajikan pemandangan ke arah utara menuju Lovina, tujuan kami berikutnya. Perkebunan dan rumah terhampar di bawah kami sampai ke laut, sementara bagian barat dipenuhi gunung. Anda dapat langsung membayangkan kapal-kapal layar yang melintasi cakrawala.

Walaupun sore hari di sini sangat menenangkan, kami tetap ingin sampai di Lovina sebelum larut malam. Sepanjang jalan, bahkan di kios-kios terpencil, kami menemukan sajian mie dalam mangkuk serta kopi lokal beraroma kuat yang khas, rasa hangatnya membawa kesegaran di udara yang dingin. Para penduduk yang ramah, senang mendapati teman-teman baru dan membantu kami menemukan pom bensin terdekat tanpa mengharapkan balas jasa apa pun. Terbebas dari komersialisme Kuta, orang-orang di sini jauh lebih santai, yang menghabiskan waktu dan keingintahuan mereka yang murni untuk mengenal kami.

Pagi berikutnya, kami menyambut subuh di Lovina saat kabut terangkat dari laut. Armada kapal layar kayu kami sudah menunggu, tertambat sesaat sebelum kami mendengar teriakan dari depan, lalu mesin pun berderu. Lumba-lumba pun terlihat. Keceriaan memuncak saat udara laut yang segar melewati kami. Kami melihat tiga atau empat lumba-lumba, diikuti seluruh kumpulannya - sekitar 30 mamalia laut berwarna kelabu yang indah timbultenggelam di depan kami, dan beberapa di bawah kami. Cara yang luar biasa dalam menyambut datangnya hari.

Setelah menikmati pantai utara yang kosong, kami menuju ke Padangbai untuk melintas ke Gili Meno menggunakan feri. Ini berarti menjejalkan diri di antara ikan dan sayuran didalam perahu berwarna mentereng yang berasal dari pelabuhan Bangsal di Lombok. Namun perjalanan ini sangat memuaskan, dan kami pun segera beralih ke laut lepas, sendiri bersama beberapa pasangan lain jauh di bagian ujung pantai. Rasanya luar biasa bebas.

Ombak yang menggulung merupakan satu-satunya suara dalam kesendirian yang sunyi ini, sementara matahari yang terik secara perlahan membawa diri melintasi langit biru yang cerah. Tanpa sengaja kami menemukan sebuah bar di pantai yang pemiliknya menawari kami tinggal di rumahnya sementara ia mengungsi ke tempat tetangganya. Gubuk kayu dan jerami berlantai dua kami pun segera dinamai ‘rumah pohon’. Dari balkon lantai duanya, kami melihat matahari tenggelam di laut tak berujung. Tidak jauh, lagu-lagu populer Bob Marley dapat didengar dari Restoran Diana di pesisir pantai. Ditepi sini kami bertemu dengan pasangan lain yang tinggal di daerah itu dan seorang peselancar yang menyeruput cocktail.

Saat bersantai di tempat tidur gantung sambil meminum bir, replika kapal layar di laut membuat saya merenungi berapa banyak leluhur pulau ini yang memandang ke laut biru yang sama serta kapal-kapal sejenis ini berabad-abad lalu. Gili Meno merupakan tempat Anda merenungkan banyak hal, dan pikiran yang memenuhi otak sibuk orang kota terbuang ke laut.

Saat kembali ke Bali, kami memanjakan diri pada akhir liburan kami, tapi tetap dengan hal yang berbeda. Kami mendapati

Uma Sapna di Seminyak, sebuah kompleks berisikan 20 vila yang masing-masing bertema khas dan karakteristik indah; bahkan jam dinding dan lampu untuk setiap kamar pun dipilih secara cermat. Kami mendapatkan lahan lebih dari 93 meter persegi untuk kami sendiri dan tempat ini bahkan memiliki galeri seninya sendiri, sebuah bangunan dua lantai yang luas di dalam kompleks. Setelah sebelumnya menikmati pizza yang dibakar menggunakan kayu di Gili Meno, kami menikmati sarapan yang serasa makan malam, yang disajikan kepada kami pukul 5 pagi sebelum dapur dibuka - akhir yang hening tapi berkelas dari liburan kami yang luar biasa di Bali.

Contacts Kontak

Guru Ratna
Homestay Munduk Village, Singaraja, tel: (0)362 92812

Nirwana Seaside Cottages
Lovina Beach, Kalibukbuk, Singaraja, tel: (0)362 41288

Pacung Indah Hotel & Restaurant
Jln Raya Bedugul, Desa Pacung Baturiti, tel: (0)368 21020

Uma Sapna
20xx Jln Drupadi, Basangkasa, Seminyak, tel: (0)361 736 628 www.coconuthomes.com

This entry was posted on Thursday, October 1st, 2009 at 12:26 pm and is filed under Arrivals(in). You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply