MENGAMBIL BENTUK
January 1st, 2010 by admin
RANCANGAN FURNITUR BERKUALITAS TINGGI BARU MULAI BERTUMBUH DI INDONESIA. NAMUN, BERDASARKAN LAPORAN HARUMI SUPIT, INDONESIA MEMILIKI BAKAT UNTUK BERSAING DENGAN YANG TERBAIK

Di suatu senja di hari Selasa, sebuah bangunan berlantai tiga yang menjadi tempat bagi Accupunto, galeri furnitur baru, terasa sepi. Seorang pelanggan berpakaian rapi memeriksa furnitur berancangan indah yang dipajang di atas lantai beton curah. Saya meraba meja indah sepanjang dua meter yang terbuat dari kayu besi padat, merebahkan badan di salah satu kursi unik galeri ini yang terbuat dari bola-bola plastik yang dijalin bersama. Galeri ini tampak seperti sebuah rumah di Stockholm atau Hong Kong, padahal 90 persen produk yang merupakan kreasi perancang lokal, Leonard Theobrata.
Sudah sejak lama Indonesia merupakan panutan pembuatan furnitur sekaligus merupakan produsen bahan baku terkemuka dunia seperti rotan, plywood dan jati. Menurut Asosiasi Mebel Industri Indonesia (Asmindo), ekspor furnitur mencapai US$2.65 miliar di tahun 2008, sementara penjualan domestik mencatatkan $700 juta, dan mempekerjakan lebih dari delapan juta pekerja secara keseluruhan. Namun, lompatan dari produksi furnitur ke rancangan dan konsep masih dalam tahap awal.
Menurut Theosubrata, yang belajar di Pasadena, Amerika Serikat, konsep rancangan furnitur Indonesia asli masih berada dalam tahap pembentukan. “Masih belum terbentuk. Saat ini, industri kita sedang mengalami perubahan besar. Delapan tahun lalu saat saya baru lulus kuliah, perubahan tersebut baru dimulai. Namun, dalam tiga tahun terakhir, kita mendapatkan dorongan kuat dari masyarakat, media, dan pemerintah.”
Ia menyatakan bahwa pengalamannya di luar negeri memberikan pengaruh besar atas pendekatan rancangannya. “Rancangan saya kontemporer, sederhana dan memiliki pandangan saya terhadap fungsionalitas rancangan.” Hal ini menjadi minat dalam objek taktil dengan kualitas patina.
Di tingkat lembaga, peningkatan dukungan bagi perancang furnitur lokal mulai terlihat. Departemen Perindustrian telah menyediakan sekitar 60 miliar rupiah untuk industri kreatif, termasuk rancangan produk, untuk tahun 2007 sampai 2011, sementara prakarsa sektor swasta yang semakin banyak, misalnya Djarum Innovation Award, membantu mengenali rancangan yang baik.
Jelas bahwa kita tidak kekurangan bakat. Perancang Indonesia berhasil memenangkan banyak penghargaan di luar negeri. Kursi Accupunto karya Theosubrata memenangkan penghargaan Red Dot Jerman dan Good Design Award dari Japan Design Council; Mini Tall Boy Home Theatre karya Dino Fabriant memenangkan Innovation Awards 2006 di Korea; sementara British Design Awards memberikan penghargaan untuk radio kayu Magno karya Singgih S Kartono.
Namun, perancang pemula terus menghadapi perjuangan panjang. Pilihan kerja bagi perancang produk furnitur sering kali terbatas, ditambah dengan jalur karier yang tidak jelas serta adanya banyak rintangan untuk pemerekan dan produksi.
Alvin Tjitrowirjo, yang baru saja pulang dari Eropa, merupakan perancang produk muda terkemuka yang saat ini mengajar rancangan furnitur di Universitas Pelita Harapan. Ia mengatakan bahwa kurangnya pembinaan bakat sering kali dikarenakan kurangnya pemahaman atas nilai tambah yang diberikan rancangan furnitur.
“Saya rasa hal ini karena Indonesia merupakan negara berbasis kerajinan tangan. Perancang produk sering dianggap sebagai perajin kayu. Masyarakat belum menyadari potensinya.” Alvin mengatakan bahwa sebagian besar lulusan kursus rancangan furniturnya kemudian bekerja di perusahaan rancang interior atau perusahaan arsitektur.
Tjitrowirjo juga sangat dipengaruhi oleh masa yang ia habiskan di Eropa. Dalam pencariannya atas jiwa rancangan kontemporer Indonesia, ia mencoba memproduksi konsep rancangan dengan gaya Indonesia. “Sebagian besar hal yang memberi saya inspirasi adalah hal-hal kecil yang saya temukan di Indonesia. Pola tradisional, perilaku manusia, kepribadian, alat tradisional. Detail visual dan filosofi suatu budaya.”
Faktor yang paling menjanjikan dalam bangkitnya rancangan produk Indonesia yang berkesinambungan adalah fakta adanya perubahan seleras domestik. Pemilik toko furnitur Klots, Claudia Halim, yang memulai usahanya di tahun 1999 dengan rancangan klasik rumit, mengatakan bahwa dalam dasawarsa terakhir pasar telah mulai mencari furnitur kontempor dan ramping. Ia pun telah menyesuaikan penawaran produknya.
Di Indonesia, semakin banyak pembeli yang mau mendapatkan perhatian melalui furnitur yang mereka beli. Hal ini berdasarkan penjualan di ToiMoi, sebuah toko di Jakarta. Peritel ini menjual furnitur unik, seperti kursi yang terbuat dari cardboard. Seorang juru bicara mengatakan bahwa dalam satu setengah tahun ini, pesanan datang untuk perabot unik dari tempat jauh seperti Medan - dengan pelanggan semakin terbuka dalam membeli furnitur dibandingkan sebelumnya saat mereka hanya membeli bantal atau gorden.
Tjitrowirjo mendeskripsikan salah satu kelompok pelanggannya sebagai pengusaha generasi kedua: masyarakat kota yang berada dan mapan berusia di akhir 20 sampai 40-an yang memiliki uang lebih dan apresiasi estetika yang telah diasah di luar negeri. Kelompok lainnya adalah mereka yang berusia lebih muda, lebih berseni dan sadar rancangan, sering kali tinggal di tempat seperti Bandung, yang lebih mengandalkan kreativitas daripada uang.
Walaupun kedua kelompok memiliki pengaruh yang kuat, ia yakin bahwa rancangan produk furnitur Indonesia memerlukan lebih dari satu dasawarsa untuk mencapai skala yang diperlukan dalam permintaan dan pasokan. Pada saat itu, semakin banyak orang Indonesia yang akan memiliki pandangan positif terhadap produk domestik dibandingkan dengan produk impor; sementara kualitas dan konsistensi produksi pesanan berjumlah kecil akan meningkat, katanya.
Secara keseluruhan, Theosubrata melihat masa depan yang cerah untuk furnitur Indonesia berkualitas tinggi. “Saya melihat potensi yang besar bagi Indonesia untuk menjadi pemimpin regional dalam rancangan kontemporer. Kita memiliki bakat dan sumber daya.” Anggap ini sebagai peringatan untuk Denmark dan Swedia.
Kontak
Accupunto
25A Jln Prapanca South Jakarta tel: (0)21 541 5522 www.accupunto.com
Alvin Tjitrowirjo
www.alvin-t.com
Klots Furniture
48 Jln Kemang Timur South Jakarta tel: (0)221 7179 1827 www.klots.com
Magno - PIRANTI WORKS
tel: (0)293 490 0895 www.magno-design.com
ToiMoi
27 Jln Kemang Raya South Jakarta tel: (021) 719 8371 www.toimoi.co.id
This entry was posted on Friday, January 1st, 2010 at 11:45 am and is filed under Arrivals(in). You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.



