Print This Post AddThis Social Bookmark Button  Email This Post

Better Business

July 1st, 2010 by admin

Menuju regional

Bagi bisnis-bisnis sukses Indonesia yang mengincar ekspansi secara regional, waktu sangatlah penting. Sementara Chris Holm melaporkan, beberapa pengusaha lokal tengah mengambil langkah penting, sementara yang lainnya tetap senang mengejar keuntungan di rumah

ILLUSTRATION: KURT PARTON / ILLUSTRATIONROOM.COM.AU

Terkadang dalam bisnis, ide-ide cemerlang datang ketika anda ingin mengerjakan hal lain. Agung Nugroho Susanto hanya berusaha 25 tahun, namun ia sudah memiliki rumah sendiri dan mengendarai BMW ke kantor - berkat ide usaha yang datang padanya pada waktu mencuci baju. “Saya tidak punya uang, belajar hukum di universitas, dan harus mencuci baju sendiri,” katanya. Sejak pertama membuka bisnis binatu pertamanya di Jogjakarta tahun 2006 sambil kuliah di Universitas Gajah Mada, rantai usaha binatu-nya, Simply Fresh, telah tumbuh pesat.

Kesuksesannya diraih melalui penerapan sistem waralaba dan teknologi modern ke sebuah industri yang masih didominasi oleh ratusan operator-operator kecil “rumahan”, yang masih banyak mencuci dengan tangan. Berfokus pada pengantaran yang cepat, kualitas yang tinggi dan harga yang kompetitif, menjadikan trademark toko merah menyala dengan gambar mesin cuci yang tersenyum, tumbuh hingga lebih dari 200 outlet di seluruh Indonesia. Menargetkan untuk membuka 500 sebelum akhir tahun 2010, Agung berencana untuk membawa bisnisnya ke regional. Ia berencana untuk membuka toko-toko pertamanya di Singapura dan Malaysia di awal 2011. Visi waralaba jangka panjangnya? “Menjadi sepopuler KFC atau McDonald’s.”

Agung adalah salah satu pengusaha Indonesia yang menaruh perhatian pada pasar regional setelah sukses di Indonesia.

Ia mengatakan bahwa keyakinannya akan kemampuan Simply Fresh untuk berkembang datang dari pertimbangan bahwa perencanaan usahanya belum pernah dicoba di tempat lain. Ia telah secara cermat mempelajari pasar regional sejak awal 2009. “Malaysia dan Singapura memiliki pasar yang mirip Indonesia - dan kami yakin konsep Simply Fresh akan berhasil di sana.”

Simply Fresh dapat menjadi pembuka jalan jika berhasil. Walaupun sangat banyak perusahaan lokal yang berhasil, hanya segelintir usaha-usaha Indonesia yang sukses secara global. Salah satu alasannya adalah struktural – 80 persen usaha lokal masih merupakan usaha keluarga dan berfokus pada dalam negeri, sementara perusahaanperusahaan yang lebih besar kebanyakan ada di sektor non-retail. Ditambah lagi, keadaan kini tidak terlalu kondusif untuk pertumbuhan perdagangan. Laporan Daya Saing Perdagangan Global 2010 oleh Forum Ekonomi Dunia menempatkan Indonesia di ranking 68 dari 125 ekonomi di seluruh dunia, jauh di belakang beberapa tetangganya.

Ahli pelabelan internasional Martin Roll melihat adanya perubahan bagi perusahaan Indonesia. Kepala Perusahaan Martin Roll mengatakan perusahaan-perusahaan menyadari pentingnya pelabelan dan membangun reputasi. “Perusahaanperusahaan tersebut perlahan menandai keberadaannya di wilayah ini. Namun hingga kini, belum banyak yang berhasil mendapat pengakuan internasional.” Salah satu contoh yang berhasil dapat menandai datangnya perubahan.

“J.CO adalah contoh baik, yang menunjukkan bahwa walaupun perusahaanperusahaan Indonesia kurang melakukan pengembangan label global secara keseluruhan, namun ini dapat dilakukan dengan sukses,” kata Roll. Dimiliki oleh pengusaha Indonesia Johnny Andrean, kafekafe santai raja kopi dan donat J.CO telah menyaingi nama-nama internasional seperti Dunkin’ Donuts dan Krispy Kreme di pasar lokal, menjadikannya label kafe Indonesia paling populer.

Dengan jumlah total 66 kafe di seluruh Indonesia, J.CO kini berhasil di Malaysia dan Singapura. Tahun ini, grup ini berencana untuk membuka kafe pertamanya di Shanghai. Dalam wawancara dengan Mandala, Andrean mengaitkan keberhasilan J.CO dengan inovasiinovasinya yang berfokus pada pelanggan dan strategi pelabelan yang kuat. “Secara keseluruhan, J.CO memiliki produk yang unik – ditambah dengan konsep label yang kuat,” katanya. “Karena itu kami percaya kami dapat bersaing dengan, atau bahkan lebih baik dari label-label internasional.”

Model ini juga berhasil karena fokus, kata Roll. “CEO J.CO berfokus pada rumus sederhana. Mereka mengarahkan proses mereka, dan strategi pelabelan adalah ini dari perkembangan perusahaan ini.” Resep yang akan berjalan baik, katanya. “Perusahaan ini dapat tumbuh lebih jauh dalam perjalanannya – dan membantu menunjukkan bahwa perusahaan Indonesia memiliki potensi global yang belum terjamah.”

Bagi Andrean dan Agung, ekspansi regional dapat mendorong sebuah perusahaan sukses menjadi pemain global. Namun masing-masing mengingatkan bahwa ada ancaman juga bagi yang tidak siap. “Menjadi terlalu besar dalam waktu yang terlalu singkat dapat berbahaya untuk perusahaan yang tidak siap,” kata Agung. “Perusahaan harus yakin akan semua aspek dari usaha-usaha mereka – termasuk rantai pemasok dan pelayanan purnajual – sebelum mereka membuat loncatan regional.”

Beberapa usaha kurang cocok untuk berkembang secara regional. Kepala Asosiasi Waralaba Indonesia, Levita Supit, memperingatkan bahwa apa yang berhasil di dalam negeri belum pasti akan menarik di luar negeri, karena perbedaan demografik, peraturan yang berbeda dan kompetisi yang lebih keras. “Satu alasan sebuah bisnis dapat berhasil di Indonesia adalah dibawanya hal yang baru ke pasar yang masih berkembang. Namun hal baru tersebut mungkin sudah ada di regional – dan mungkin lebih baik.”

Bahkan bagi usaha-usaha dengan produk yang sempurna, pelaksanaan sangatlah kritikal. Tumbuh terlalu lambat, ada risiko ide anda diambil kompetitor. Tumbuh terlalu cepat, tanpa memperhatikan hal-hal kecil, ada risiko mengabaikan kelebihan-kelebihan yang pertama kali membuat usaha anda sukses. Andrean berkata bahwa, untuk J.CO, berhasil berarti perencanaan yang bagus dan pelaksanaan yang cermat. “Kami duduk dan mempertimbangkan secara hati-hati bagaimana kami dapat mempertahankan produk dan pelayanan pada standar yang sama yang kami punya di Indonesia. Kami ingin pelanggan kami untuk merasakan produk dan pengalaman sama seperti di setiap outlet J.CO.”

Nasihatnya bagi yang mengincar pasar regional? “Kualitas adalah nomor satu, dan tidak ada kompromi,” catatnya. Ini sangat penting untuk menjaga standar anda, di manapun anda berada. Anda juga harus belajar banyak mengenai peraturan-peraturan pemerintah lokal dan sentral.” Pengusaha waralaba binatu Agung percaya banyak yang menghindari masuk ke lingkar regional karena ketidakyakinan akan produk mereka. “Intinya mereka takut untuk bersaing,” katanya. “Namun jika anda yakin akan produk anda, maka anda akan punya keyakinan untuk maju.”

Namun sangat penting bahwa pengembangan ke luar negeri bukanlah syarat mendapat keuntungan. Di pasar yang luas dan menjanjikan seperti Indonesia, beberapa hanya melihat sedikit pentingnya loncatan menuju regional. Wenny Tri Suryani adalah development manager waralaba Apotek K-24, bisnis apotek paling cepat berkembang di Indonesia. Dengan ragam produknya yang banyak, harga yang tetap dan pelayanan apotek 24-jam, Apotek K-24 telah tumbuh hingga 170 apotek di seluruh Indonesia dalam tujuh tahun, dan merencanakan 70 outlet tambahan tahun ini. Wenny berkata bahwa grupnya mendapat permintaan untuk membuka waralaba di Timor Leste dan Malaysia, tapi belum ada rencana untuk berkembang di luar Indonesia.

Jalan distribusi untuk obat-obatnya juga menyebabkannya berpikir lagi. “Jalanjalan distribusinya berbeda di negara lain,” katanya. “Dan peraturannya juga berbeda.” Jadi perusahaannya akan melanjutkan “visi nasional”-nya untuk melebarkan sayapnya ke kota-kota kecil di Indonesia, seperti Kupang, Cepu dan Kediri. Walaupun menggiurkan, pilihan untuk berkembang secara regional harus dilakukan untuk tujuan usaha yang solid. Paling tidak untuk saat ini, rumah adalah di mana hati berada. “ Saat ini, kami senang melakukan yang terbaik yang kami bisa di Indonesia,” katanya.

Laporan tambahan oleh Irvan Tisnabudi

This entry was posted on Thursday, July 1st, 2010 at 12:00 am and is filed under Arrivals(in). You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply