Cerita Utama
July 1st, 2010 by admin
Pusat seni
Tidak banyak tempat yang begitu tertarik dengan seni seperti desa Ubud Bali. Natasha Dragun mengunjungi kembali daerah kantong yang kreatif ini, dan keistimewaannya untuk mempraktikkan, mengoleksi dan belajar seputar seni. Fotografer Barry Kusuma mengikuti cover model, Ilma dan Ita, di sekitar atraksi seni terbaik Ubud

PICTURED: Many of Bali’s vibrant green, intricately-tiered rice terraces, such as these at Tegalalang, are now protected lands. Besides feeding local people, they have long inspired visiting artists and photographers
MODELS: ILMAWATI, ITA FROM SEVEN MANAGEMENT HAIR AND MAKE-UP: HAIRUDIN
Ilma (left) wears: Dress from Just Jeans; Flats from VNC
Ita (right) wears: Dress from Brand61; Flats from Mandy’s

Ilma (left) wears: Top from Infinity (Amandari); Leggings from Cotton On; Heels from Iconinety9
Ita (right) wears: Top and shorts from Proklamasi (courtesy of Amandari Resort)
Perjalanan darat secara perlahan menguak apa yang menunggu di hadapan. Jalanan yang menjauhi pantai, lalu menyempit dan berkelok seraya menuju jantung pulau Bali.
Di antara hutan kecil menyeruak sekumpulan toko kerajinan tangan – mulai dari tanaman pot, furnitur luar ruangan, sampai perabotan rumah. Lalu seni. Hal pertama yang terlihat dari Ubud adalah jajaran galeri dan bengkel seni, butik dan kafe berseni, ditambah dengan pura-pura yang indah, pohon pepaya dan kelapa yang menjulang – serta sawah-sawah yang hijau berkilau.
Sulit untuk tidak terhanyut dalam nuansa kreatif Ubud. “Saya rasa seniman datang mengunjungi Ubud karena ada banyak pemandangan yang memberi inspirasi,” ujar Liv Gussing, general manager Amandari, salah satu resor mewah pertama di Ubud. “Gabungan warna dan cahaya yang luar biasa indah menciptakan peluang tanpa batas di sini.” Berlokasi di tengah hutan hujan yang memandang ke arah Sungai Ayung di desa Sayan, Amandari merupakan salah satu dari beberapa butik resor yang berada di Ubud. Setiap sore, anak-anak sekolah berkumpul di sana untuk belajar menari yang disediakan gratis oleh staf hotel.
Kedekatan dengan seni dan budaya ini bukanlah fenomena baru. Ubud, dengan penduduk sekitar 8.000 orang, lama dikenal sebagai pusat seni Bali, yang telah menarik pelukis, pematung, dan musikus selama beratus-ratus tahun. Sebagai pendukung seni, keluarga kerajaan di akhir abad kesembilan belas menumbuhkan suasana kreatif yang masih kental di masyarakat Ubud sampai saat ini. “Di tahun 1930-an, raja mengundang para seniman untuk datang dan tinggal di Ubud, dan mereka membawa banyak pengaruh kepada budaya setempat,” jelas Koman Neka, pemilik tiga hotel bernuansa seni di Ubud. “Keluarga kerajaan selalu mendukung seni dan budaya, sehingga seni menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.”

LEFT AND RIGHT: Bali’s Monkey Forest features fantastic sculptures, such as these Komodo dragons; For young Balinese, like these performers at Amandari, art is a natural part of the culture
Kakek dari Koman, Suteja Neka, diangkat sebagai pemahat keris kerajaan oleh raja, dan kemudian membuka Museum Seni Neka di tahun 1982, yang menyimpan karya dari Abdul Aziz dan Anak Agung Gede Sobrat, serta koleksi keris yang dianggap sebagai terbesar di dunia.
Sama halnya, Agung Rai Museum of Art (ARMA) dibuka oleh kolektor seni Bali, Agung Rai. Sebagai pencinta seni, ia menjelajahi dunia untuk membeli karya seni Indonesia di luar negeri, dan saat ini menjadi bagian koleksinya yang sangat besar. Dengan penataan layaknya taman firdaus seni, ARMA menampilkan tiga ruang galeri elegan yang bermandikan cahaya, serta menyajikan sekumpulan karya Bali dan jawa karya maestro seni masa lalu dan masa kini – ditambah karya-karya seniman luar negeri yang pernah tinggal di Bali. Selaras dengan Ubud, seni modern berdiri sejajar dengan seni klasik di ARMA, yang tamannya dipenuhi dengan patung modern berwarna terang – menyajikan kekontrasan visual yang enak dilihat dilatari arsitektur tradisional, pahatan fresco, dan sawah.
Di seberang kota, Gaya Fusion di Sayan mendedikasikan diri untuk karya kontemporer, yang menggabungkan karya campuran seniman setempat dan internasional, sekaligus mendorong para pengunjung untuk menjadi kreatif. Gaya Anak Anak, yang diadakan setiap hari Minggu, adalah program seni dan kerajinan tangan gratis untuk anak-anak. Galeri ini pun secara rutin menyelenggarakan acara teater, tarian dan musik – sementara tetangganya, studio Gaya Ceramics, menawarkan tur dan pelajaran seni berdasarkan permintaan.

Ita (left) wears: Dress from Body and Soul; Heels from Icon Ninety9
Ilma (right) wears: Dress from Rolling Stock; Heels from Everbest
Setelah Anda selesai mengeksplorasi dan berkreasi, kafe di lantai atas Gaya merupakan ruang untuk menikmati hidangan setempat, yang dikelilingi oleh lukisan dan keramik ciptaan setempat. Banyak restoran dan kafe lain di Ubud berkembang menjadi ruang pertunjukan seni yang memberikan arti baru bagi ‘pelajaran seni.’ Cafe Tutmak merupakan ruang bergaya yang secara rutin menyajikan pameran lukisan yang berbeda; Coff ee and Silver memiliki koleksi patung hiasan buatan Ubud yang luar biasa; sementara Three Monkeys tidak boleh dilewatkan selain untuk mendapatkan pemahaman budaya, juga untuk hidangannya.
Nuansa seni setempat Ubud tampaknya berkembang lebih cepat dibandingkan irama kehidupan di Ubud yang santai. Berbeda dengan Kuta atau Seminyak, kehidupan di Ubud tidak terasa cepat. “Hal ini ideal bagi seniman,” ujar Koman. “Seni yang sebenarnya tidak dapat ditiru atau diburu-buru.” Suasana santai inilah yang menarik perhatian seniman internasional di awal abad ke-20. Pelukis dan musisi Rusia, Walter Spies, yang dapat dilihat karyanya di ARMA, tinggal di sini selama 15 tahun mulai dari tahun 1927, kemudian di tahun 1960-an diikuti oleh seniman Belanda terkenal, Arie Smit, yang kemudian mendirikan Gerakan Seniman Muda. Smit masih tinggal di Ubud di usianya yang ke-94.
Seniman muda saat ini pun masih berdatangan untuk mencari inspirasi yang sama. Pelukis dan pematung Australia, Chris Miller, datang ke Ubud secara tidak sengaja, dan mendapatkan lima tahun terbaik dalam hidupnya di sini, sekaligus membuka galeri dan studio seni kecil, New Earth. “Saya langsung jatuh cinta dengan Ubud. Anda akan selalu bertemu seniman baru di sini,” ujarnya. Di ujung kota lain, Pranato’s Gallery menyelenggarakan kelas melukis langsung mingguan, yang sangat terkenal di antara penduduk setempat seperti Chris maupun pelancong yang ingin membawa sedikit kenangan mengenai Ubud.
Tidak jauh dari studio Pranato, Bali Center for Artistic Creativity menyelenggarakan pelajaran kreatif, mulai dari kelas melukis singkat sampai kelas yang berlangsung sampai beberapa hari, lokakarya yang diakreditasi oleh universitas. Jo Philips, penulis dari London yang berlibur di Ubud, mendaftarkan diri mengikuti kursus melukis di sana. “Saya merasa bosan di rumah, dan ingin bergabung di komunitas seni untuk mendapatkan inspirasi,” ujarnya. “Ini bukan masalah bagus atau buruk - karya saya tidaklah luar biasa. Ini lebih mengenai berkumpul dengan orang-orang kreatif; bertemu dan dibimbing langsung oleh seniman terbaik Bali, serta menghabiskan waktu untuk menyerap nuansa seni di galerigaleri Ubud yang cantik.”
Walaupun sebagian besar kelas diselenggarakan di galeri sekaligus studio kecil, sebagian lokakarya melibatkan perjalanan ke pedesaan. Perjalanan ini membawa para murid menempuh lima kilometer ke luar kota untuk melukis teras sawah Tegalalang, yang berwarna hijau bak zamrud. Beberapa murid pun memberanikan diri mengunjungi Wana Wanara - yang terkenal dengan monyet-monyetnya yang nakal, dengan pemandangan yang damai dikelilingi pohon tropis tinggi yang menutupi reruntuhan kuil Hindu. Kesunyiannya kadang dipecahkan oleh suara binatang yang bermain-main di atas Anda.
Sebagian besar kuil dan gerbang ini berasal dari desa kecil di sekeliling Ubud. Mas, berjarak lima menit berkendara dari pusat kota, terkenal dengan pahatan kayunya, dan merupakan tempat tinggal sekumpulan studio seniman, misalnya Puja. “Perlu sampai lima bulan untuk menciptakan satu pahatan sekuran manusia,” ujar Nyoman, manajer galeri Puja. Ia menunjuk ke bengkel seni semi terbuka tempat belasan seniman pemula duduk bersila memeluk potongan kayu cendana, eboni, hibiskus, dan jati. “Mereka adalah seniman sejati. Mereka tidak meniru - mereka mencipta berdasarkan imajinasi, menggunakan keterampilan yang dipelajari dari orang tua mereka.” Semua seniman Puja berasal dari desa Mas, ujar Nyoman yang dilatih dari satu generasi ke generasi berikutnya. “Seniman yang baik tumbuh secara alami, bukan dari sekolah formal,” ia berkata.
Liv Gussing menyetujuinya. “Saya rasa darah seniman dalam masyarakat berkembang dan bertumbuh dari sejak dini di sini. Maksud saya, lihat saja para penari muda ini,” ujarnya, mengagumi sekelompok anak di bawah sepuluh tahun yang memperagakan tari legong kepada sekumpulan wisatawan. “Inilah Ubud. Inilah mengapa orang-orang datang ke sini.”
KONTAK
Agung Rai Museum of Art
Jln Raya Pengosekan tel: (0)976-659 www.armamuseum.com
Amandari
Jln Raya Kedewatan, Bali 80571, tel: (0)361 975 333 www.amanresorts.com
Bali Center for Artistic Creativity
Jln Raya Petalu tel: (0)361 970 034 www.baliartcourses.com
Panorama Tours
Panorama Building 4th floor, 63 Jln Tomang Raya, Jakarta tel: (0)21 569 58585 www.panorama-tours.com
Pranato’s Gallery
tel: (0)361 970 827
Cafe Tutmak
Jln Dewi Sita tel: (0)361 975 754
Coff ee and Silver
Jln Monkey Forest tel: (0)975 354
Gaya Fusion
Jln Raya Sayan tel: (0)361 745 1413 www.gayafusion.com
Komaneka at Bisma
Jln Bisma tel: (0)361 971 933 www.komaneka.com
Neka Art Museum
Jln Raya Campuhan tel: (0)361 975 074 www.museumneka.com
Sika Contemporary
Jln Raya Campuhan tel: (0)361 975 727
Blue Moon Gallery
Jln Tirta Tawar, Banjar Kutuh Kaja tel: (0)361 976 727
Three Monkeys Cafe
Jln Monkey Forest tel: (0)361 974 830
This entry was posted on Thursday, July 1st, 2010 at 12:00 am and is filed under Arrivals(in). You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.



